Riwayat & Pemikiran Max Weber

Max Weber dikenal sebagai ekonom, politikus ilmuan, pendidik, filsuf, cendikiawan, sosiolog, ativis anti perang, kritikus sastra, dan wartawan. Max Weber dianggap sebagai salah satu pendiri sosiologi modern. Max Weber merupakan seorang penulis yang sangat produktif sekali memiliki karya yang sangat banyak. “Etika Protestan & Semangat Kapitalisme” dianggap sebagai karya terbesar Max Weber dan diterbitkan pada tahun 1905. Karya Max Weber yang lain, diantaranya: “Teori Organisasi Sosial & Ekonomi”, “Metodologi Ilmu-ilmu Sosial”, “Sejarah Ekonomi Umum – Sebab-sebab Sosial Dari Kehancuran Peradaban Kuno”, “Agama Tiongkok: Konfusianisme & Taoisme”, “Yudaisme Kuno”, “Hukum dalam Ekonomi & Masyarakat”, “Kota”, “Agama India: Sosiologi Hinduisme & Buddhisme”, “Dasar-dasar Rasional & Sosial Dari Musik”, “Tiga Bentuk Pemerintahan Yang Sah”, “Konsep-konsep Dasar Dalam Sosiologi”, “Sosiologi Agraria Dari Peradaban Kuno”, “Ekonomi & Masyarakat: Sebuah Kerangka Dari Sosiologi Interpretif”, “Tentang Karisma & Pembangunan Lembaga”, “Weber: Tulisan-tulisan Politik”, “Revolusi Rusia”, “Esai-esai Dalam Sosiologi Ekonomi”, dan masih banyak karya lainnya.

Max Weber lahir di Jerman pada tanggal 21 April 1864. Max Weber dibesarkan di Jerman selama era Bismarck. Ayahnya adalah Max Weber Sr yang merupakan seorang pengacara yang aktif di dunia politik. Ibu dari Max Weber adalah Helene Fallenstein Weber. Pola hidup sang ayah yang mempunyai kecenderungan mengejar kesenangan duniawi sangat berbeda dengan pola hidup sang ibu yang lebih suka kesederhanaan, mirip dengan hidup pertapa. Hal ini menimbulkan konflik terus menerus dalam keluarga dan kemudian mempengaruhi hidup Max Weber, namun meski demikian rumah dan lingkungan tempat Max Weber berkembang penuh kaum intelektual dan tentu ini juga mempunyai pengaruh pada hidupnya. Max Weber tumbuh sebagai sosok yang bosan dengan sekolah dan meremehkan guru, tetapi mampu melahap literatur klasik sendiri.

Max Weber mempelajari hukum, sejarah, filsafat, dan ekonomi selama tiga semester di Universitas Heidelberg, kemudian menghabiskan satu tahun di militer. Max Weber melanjutkan studinya pada tahun 1884 di Universitas Berlin dan menghabiskan satu semester di Göttingen. Max Weber meraih gelar Ph.D pada tahun 1889 dan ini memungkinkan baginya untuk mendapatkan posisi dalam dunia akademis. Max Weber menikah dengan seorang sepupu jauhnya yang bernama Marianne Schnitger pada tahun 1893. Max Weber mendapat pekerjaan mengajar ekonomi di Universitas Freiburg pada tahun 1894 dan kemudian kembali ke Heidelberg pada tahun 1896 sebagai seorang profesor.

Tahun 1897, Max Weber bertengkar dengan ayahnya dan tidak lama kemudian ayahnya meninggal dunia. Ayah Max Weber meninggal sebelum Max Weber dapat menyelesaikan masalah dengan ayahnya dan hal ini menimbulkan gangguan mental pada diri Max Weber. Max Weber menderita depresi, kecemasan, dan insomnia selama 5 tahun. Hal ini yang membuat mustahil baginya untuk tetap mengajar. Sisi lainnya, istri Max Weber ternyata memiliki pola hidup yang mirip dengan ibu Max Weber dan ini menjadi sebab pernikahan Max Weber tidak bahagia. Jalan pemulihan intelektual Max Weber dimulai setelah memiliki hubungan bebas dengan dengan seorang mahasiswi berusia 19 tahun yang bernama Else von Richthofen.

Tahun 1903, akhirnya Max Weber dapat kembali melanjutkan karirnya. Max Weber memulainya sebagai editor di sebuah jurnal ilmu sosial terkemuka. Tahun 1904, Max Weber diundang untuk memberikan ceramah di Kongres Seni & Ilmu di St. Louis (Amerika Serikat) dan namanya kemudian menjadi dikenal secara luas untuk esai yang lalu menjadi terkenal dengan judul “Etika Protestan & Semangat Kapitalisme.” Esai yang kemudian diterbit sebagai buku ini membahas gagasan bahwa munculnya kapitalisme modern ini disebabkan Protestan, khususnya Calvinisme.

Teori tindakan Max Weber secara telak menggugurkan pernyataan dari Karl Marx, bahwa: “Agama adalah candu masyarakat” dan sekaligus membawa pemahaman baru dalam menyikapi agama. Max Weber dicemaskan oleh proses rasionalisasi dan birokratisasi masyarakat modern, proses yang makain mencekik dan menumpas otonomi individu. Tanpa melepaskan pencarian positivistis untuk penjelasan-penjelasan kausal, Max Weber menempatkan konsep tindakan individual yang bermakna pada pusat teorinya tentang masyarakat.

Menurut Max Weber yang menjadi diri mencolok dari hubungan-hubungan social adalah kenyataan bahwa hubungan-hubungan tersebut bermakna bagi mereka yang mengambil bagian di dalamnya. Struktur sosial adalah produk (hasil) dari tindakan tersebut, cara hidup adalah produk dari pilihan. Pandangan Max Weber tentang organisasi social masyarakat modern membuka kekaguman sementaranya akan prestasi-prestasi negara modern, seperti yang dicontohkan oleh Jerman. Sisi lainnya, Max Weber menghargai kualitas-kualitas kebudayaan-kebudayaan yang sangat berbeda dengan kebudayaannya sendiri. Hal ini menunjukkan kesadarannya mengenai kompleksitas tindakan manusia di mana emosi dan nilai-nilai memegang peranan sentral sebagai bagian dari perhitungan rasional.

Max Weber mendefinisikan sosiologi sebagai sebuah ilmu yang mengusahakan pemahaman interpretative mengenai tindakan social agar dengan cara itu dapat menghasilkan sebuah penjelasan kausal mengenai pelaksanaan dan akibat-akibatnya. Menurut Max Weber, sosiologi sebagai sebuah ilmu haruslah “bebas nilai”, artinya mereka yang berada dalam posisi akademis seharusnya memisahkan antara evaluasi-evaluasi pribadi dari pernyataan-pernyataan ilmiah. Max Weber mengakui bahwa kebebasan nilai ini sulit dicapai oleh sosiologi, karena: (1) Nilai-nilai berada di antara objek-objek studi sehingga menjelaskan, sebagaimana dilakukan Max Weber, kaitan antara Protestanisme dan Kapitalisme segera berbalik menjadi evaluasi atas sistem-sistem kepercayaan dan tindakan yang bermuatan nilai ini. Max Weber berpikir bahwa kesulitan ini bisa diatasi kalau bersikap cermat untuk menangkal godaan-godaan ke arah dosa ilmiah ini. (2) Berbagai fakta yang harus dipelajari, maka seorang peneliti harus mempergunakan penilaian-penilaian moralnya sendiri untuk menyeleksi fenomena sosial yang dipikirkan bermanfaat bagi risetnya, misalnya: Max Weber tertarik akan ciri rasionalitas yang dianggapnya sebagai ciri penting dalam kapitalisme modern. (3) Proses menjelaskan tingkah laku berarti memahaminya, dan memahami menuntut peneliti untuk masuk ke dalam pikiran dan perasaan para pelaku sosial, maka ini artinya dalam menjelaskan masyarakat, peneliti harus berempati terhadap tingkah laku orang lain. (4) Max Weber menganggap bahwa ini lebih sebagai suatu bahaya untuk netralitas nilai sosiologi dibanding sebagai sebuah pernyataan tentang mustahilnya untuk dapat bebas nilai.

Max Weber membedakan antara tindakan dan gerakan belaka. Tindakan sosial menurut Max Weber adalah tindakan berdasarkan atas makna subjektif yang dilekatkan padanya oleh individu yang bertindak, tindakan itu memperhitungkan tingkah laku orang lain dan dengan cara itu pelaksanaannya terarah. Tindakan sosial merupakan sesuatu yang lebih daripada sekedar kesamaan di antara tingkah laku banyak orang (tingkah laku massa), walaupun tak perlu mengandung kesadaran timbal balik karena satu orang bisa bertingkah laku dengan sadar menuju orang lain tanpa yang lainnya itu sadar akan fakta ini. Tindakan sosial menuntut sekurang-kurangnya satu peserta memberi makna untuk tingkah lakunya menurut pengalaman-pengalaman subjektif orang lain, yaitu berkenaan dengan maksud-maksud, motif-motif, atau perasaan-perasaan orang lain.

Teori tentang manusia menurut pemikiran Max Weber dipahami melalui pencirian tentang 4 jenis tindakan manusia, yaitu: (1) Rasional tujuan (rasionalitas instrumental). Tingkah laku ini mencakup perhitungan yang tepat dan pengambilan sarana-sarana yang paling efektif untuk tujuan-tujuan yang dipilih dan dipertimbangkan secara jelas. (2) Rasional nilai (rasionalitas nilai). Tingkah laku model ini saat seorang pelaku terlibat dalam nilai penting yang mutlak atau nilai kegiatan yang bersangkutan. (3) Emosional (afektif). Tingkah laku yang berada dibawah dominasi perasaan-perasaan. (4) Tradisional. Tingkah laku ini berdasarkan kebiasaan yang muncul dari praktik-praktik yang mapan dan menghormati otoritas yang ada. Keempat jenis tindakan ini adalah cara-cara individu memberi makna pada tindakan-tindakan mereka.

Hubungan-hubungan sosial menurut Max Weber bisa dianalisis menjadi 3 bentuk, yaitu: (1) Konflik. Hubungan yang di dalamnya ada tindakan dengan sengaja diarahkan untuk melaksanakan kehendak pelaku sendiri untuk melawan serangan kelompok atau kelompok-kelompok lain. (2) Komunal. Hubungan yang didasarkan pada perasaan subjektif kelompok-kelompok, baik itu bersifat emosional atau tradisional. (3) Asosiatif. Hubungan yang berdasarkan ada sebuah penyesuaian kepentingan-kepentingan yang dimotivasi secara rasional. Hubungan-hubungan sosial aktual mencakup kombinasi tertentu dari ketiga bentuk ini. Pola-pola ini bisa merupakan akibat dari kebiasaan belaka atau dari kepentingan diri yang diperhitungkan, tetapi perhatian Max Weber juga diarahkan pada tatanan sosial yang didasarkan pada sebuah kepercayaan akan legitimasi atau ikatan peraturan-peraturan.

Max Weber seperti juga Karl Marx melihat hubungan-hubungan yang tidak setara sebagai sentral dalam kehidupan sosial, namun Max Weber menolak konsep Marxis bahwa ketidaksetaraan kelas selalu yang terpenting. Max Weber juga menolak konsep Marxis tentang kekuasaan selalu terkait dengan keanggotaan kelas, walaupun kekuasaan juga mewarnai pemikiran Max Weber. Max Weber percaya bahwa pelaksanaan kewenangan merupakan fenomena universal dan bahwa ada tiga jenis dominasi yang menjadi ciri hubungan otoritas: karismatik, tradisional, dan dominasi hukum. Jenis ini menunjukkan hubungan antara penguasa tertinggi (seorang nabi, seorang raja, atau parlemen), sebuah badan administratif (murid, pegawai kerajaan, atau pejabat). dan massa memerintah (pengikut, mata pelajaran, atau warga negara). Dominasi karismatik, dimana penguasa otoritas bertumpu pada kualitas luar biasa yang dia dan pengikutnya percaya terinspirasi oleh beberapa kekuatan transenden. Dominasi tradisional, penguasa terikat oleh adat purbakala yang juga sanksi yang tepat untuk latihan sewenang-wenang kehendaknya. Dominasi hukum, pelaksanaan kewenangan dikenakan sistem aturan umum.

Berikut ini kerangka pemikiran dari cara memperoleh otoritas dalam pemikiran Max Weber, yaitu: (1) Karisma berdasarkan pada kualitas luar biasa dari seseorang, tanpa memandang apakah kualitas itu actual, dinyatakan tanpa bukti, ataupun dikira-kira. Otoritas karisma akan mengacu pada kekuasaan di atas manusia, baik yang berkuasa secara internal maupun eksternal, untuk mengatur keteundukan yang disebabkan karena keyakinan bahwa orang-orang ini memiliki kualitas yang special. (2) Tradisionalisme mengacu pada bentukan perilaku psikis dalam kehidupan sehari-hari dan juga pada keyakinan terhadap kerutinan sehari-hari sebagai suatu norma perilaku yang tidak dapat diganggu gugat. (3) Sepanjang sejarah awal, otoritas karismatik yang bersandar pada keyakinan dalam kesucian atau nilai yang luar biasa, dan dominasi tradisionalis yang bersandar pada satu keyakinan terhadap kesucian kerutinan sehari-hari, membagi hubungan-hubungan otoritatif yang paling penting diantara mereka. Hanya wahyu dan pedang saja yang menjadi dua kekuatan yang luar biasa, sehingga keduanya menjadi innovator yang tipikal, tetapi bagaimanapun juga dalam mode yang tipikal, keduanya mengalah kepada rutinisasi segera setelah pekerjaan mereka dilakukan. Max Weber menolak determinisme ekonomi Marxis, karena ia melihat gagasan dan motif sebagai pendorong dalam kehidupan sosial.

Banyak karya Max Weber yang terfokus pada pengaruh keyakinan agama terhadap tindakan. Max Weber membangun analisa tentang faktor-faktor yang mendorong munculnya kapitalisme di negara-negara tempat berakarnya kapitalisme tersebut. Bentuk masyarakat modern ini yang mempresentasikan institusionalisasi (proses pelembagaan) dan rasionalitas instrumental (tujuan) di atas semua yang lain. Masyarakat kapitalis industry modern bertindak atas dasar efisiensi dan penuh perhitungan, bukan karena alasan emosi atau tradisi. Max Weber memahami modernitas sebagai kemenangan pemikiran ini tentang cara memandang dunia dan cara bertindak. Kapitalisme modern adalah hasil akhir dari proses rasionalisasi yang berakar dalam pengaruh historis dari tradisi intelektual spesifik. Cara berpikir dan bertindak seperti ini menurut Max Weber adalah masalah sentral dalam sejarah universal peradaban. Ada perbedaan mendasar antara Karl Marx dan Max Weber mengenai isi sistem keyakinan. Karl Marx berpendapat bahwa isi ideology seluruhnya pasti di bentuk oleh keadaan-keadaan ekonomi kelas yang mengadopsi. Max Weber berpendapat bahwa kecenderungan-kecenderungan strata sosial hanya berfungsi untuk menginterpretasikan kembali atau membentuk kembali isi sistem keyakinan berdasarkan kebutuhan-kebutuhannya sendiri dan untuk menyeleksi ajaran-ajaran yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Max Weber dalam buku “Etika Protestan & Semangat Kapitalisme” melihat ada keterkaitan antara kehidupan penganut Calvinisme (salah satu sekte dalam Protestan) yang diberi pedoman oleh agama tentang sikap dan jenis perilaku yang diperlukan bagi kapitalisme agar bekerja secara efektif. Max Weber menjelaskan tentang bagaimana Calvinisme mendorong agar memusatkan diri pada pekerjaan duniawi dan pada saat yang sama juga mewujudkan kehidupan asketik (latihan rohani), sederhana, rajin beribadah, dan hidup hemat. Penganut Calvisnisme yakin bahwa tidak akan diberikan ganjaran keselamatan oleh Tuhan, kecuali jika sukses dan produktif dalam kehidupan. Kehidupan penganut Calvinisme didedikasikan kepada efisiensi dan rasionalitas untuk memaksimalkan produktivitas mereka, tetapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.

Max Weber berpendapat bahwa presentase penganut Katolik di antara mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi pada umumnya lebih kecil dari populasi totalnya. Max Weber juga berpendapat bahwa di antara para rekan sekerja orang-orang Katolik menunjukkan suatu kecenderungan yang lebih kuat untuk tetap bekerja dalam dunia kerajinan, sebab mereka sering menjadi craftman master, sementara orang-orang Protestan lebih tertarik bekerja di pabrik-pabrik untuk mengisi posisi-posisi administrative. Menurut Max Weber ada suatu ungkapan yang agak menggelikan “memilih makan enak atau tidur enak”, dalam hal ini orang Protestan akan memilih “makan enak” sedangkan orang Katolik lebih memilih “tidur enak”.

Max Weber menyatakan sangat penting untuk memahami bahwa manusia itu mempunyai cara berbeda dalam hal pendirian cara beragama sejak permulaan sejarah agama. Max Weber berpendapat bahwa unsur-unsur rasional dari suatu agama tentang doktrin-doktrinnya mempunyai otonomi, misalnya doktrin karma di India, keyakinan kaum Calvinisme tentang takdir, justifikasi kaum Lutherian tentang keyakinan, dan doktrin sakramen pada Katolik. Menurut Max Weber, nilai-nilai keagamaan ini tidak selalu atau secara ekslusif menentukan, tetapi nilai-nilai ini akan menjadi menentukan sepanjang rasionalitas nilai tetap berkuasa, setidaknya sepanjang pengaruhnya terjangkau.

Emile Durkheim mendefinisikan “sosiologi” sebagai ilmu tentang institusi-institusi sosial, sedangkan Max Weber yang mendefinisikan “sosiologi” sebagai ilmu tentang perilaku sosial. Max Weber berpendapat bahwa peri kelakuan menjadi sosial hanya kalau dan sejauh mana arti maksud subjektif dari tingkah laku membuat individu memikirkan dan memperhitungkan kelakuan-kelakuan orang lain dan mengarahkannya kepada itu. Pelaku individual mengarahkan kelakuannya kepada penetapan atau harapan-harapan tertentu yang berupa kebiasaan umum atau dituntut dengan tegas atau bahkan dibekukan ke dalam undang-undang. Kelakuan orang yang diarahkan kepada benda-benda sambil mengharapkan efek tertentu, seperti menekan sakelar lampu, tidak bercorak sosial dan kelakuan religious yang dilakukan sendiri juga tidak bercorak sosial.

Emile Durkheim berpendapat bahwa kehidupan sosial sebagai entitas sui generis (unik), sedangkan Max Weber berpendapat bahwa itu adalah sebagai strategi yang disusun oleh individu-individu yang bertindak dengan sadar atau rasional. Max Weber berpendapat bahwa studi kehidupan sosial yang mempelajari pranata dan struktur sosial dari luar saja, seakan-akan tidak ada inside-story dan karena itu mengesampingkan pengarahan diri oleh individu, maka tidak bisa menjangkau unsur utama dan pokok dari kehidupan sosial itu. Max Weber menganggap bahwa penelitian sosiologis yang sungguh empiris dimulai dengan pertanyaan, yakni: motivasi-motivasi manakah yang menentukan dan membimbing peri kelakuan para anggota dan peserta individual dari masyarakat sosial itu, sehingga masyarakat itu dapat muncul dan sesudah itu bertahan terus.

Weber membedakan antara “relasi sosial” dengan “interaksi sosial”, misalnya, tabrakan antara 2 pengemudi sepeda motor bukanlah relasi sosial, tetapi relasi sosial itu dapat timbul, seandainya sebelum terjadi tabrakan, keduanya saling mengamati, menafsirkan, dan mencoba memahami gerak-gerik mereka masing-masing untuk menghindari tabrakan, atau bila sesudah terjadi tabrakan, mereka bertengkar atau mulai tawar menawar. Saat masing-masing pihak sudah mempunyai maksud tertentu dan lalu bertindak dengan cara tertentu, maka timbul relasi sosial. Max Weber berpendapat, bukan struktur-struktur sosial atau peranan-peranan sosial yang pertama-tama menghubungkan orang dan menentukan isi corak kelakuannya, tetapi arti-arti yang dikenakan orang kepada kelakuan mereka. Emile Durkheim menekankan pada tugas-tugas, kewajiban-kewajiban, dan larangan-larangan yang dikenakan oleh kolektivitas kepada anggotanya, sedangkan oleh Max Weber penekanan pada motif atau gagasan individu.

Max Weber mengemukakan bahwa realitas yang dihadapi manusia tidak pernah dapat dikenal dalam keseluruhannya. Apa yang dikenal selalu tergantung dari segi pandangan atau pertanyaan yang diajukan. Setiap kali tingkat pengetahuan yang dicapai tergantung dari sorotan-sorotan atau pandangan manusia. Tiap-tiap pengetahuan bersifat sementara dan hipotesis. Apabila seorang sarjana sosiologi mempelajari realitas sosial, maka akan selalu mendekati dari salah satu segi khusus, misalnya melihat dan mempertanyakan masyarakat modern dari segi rasionalitasnya. Berdasarkan pandangan Max Weber, keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Perilaku kerja ini dikenal sebagai motivasi, kebiasaan, dan budaya kerja.

Riwayat & Pemikiran Pierre Teilhard de Chardin

Pierre Teilhard de Chardin lahir tanggal 1 Mei 1881 dari Emmanuel dan Berthe Adele Teilhard de Chardin. Ibu dari Teilhard adalah cucu perempuan besar dari Francois-Marie Arouet atau yang lebih dikenal sebagai Voltaire. Teilhard adalah anak keempat dari sebelas orang bersaudara. Teilhard lahir di perkebunan keluarga daerah Sarcenat dekat kota kembar Clermont-Ferrand di provinsi kuno Auvergne. Teilhard tertarik pada alam sejak kecil dan melakukan penelitian pertamanya di Auvergne tempat kelahirannya. Auvergne memiliki gunung berapi purba yang kaya akan berbagai spesies satwa liar. Keterampilan Teilhard muda ini didorong oleh ayahnya yang memang menaruh minat pada ilmu alam.

Teilhard pada usia 12 tahun masuk ke dalam sekolah asrama yang bernama Notre Dame de Mongre dekat Villefranche-sur-Saone, sekitar tiga puluh mil utara dari Lyons. Teilhard disini selama 5 tahun, kemudian setelah lulus dia menulis kepada orang tuanya bahwa ingin menjadi seorang Jesuit. Teilhard masuk novisiat Jesuit di Aix-en-Provence pada tahun 1899. Tahun 1901, karena adanya gerakan anti agamawan di Republik Perancis, maka para Jesuit dan agamawan lainnya diusir dari Perancis. Novisiat dari Aix-en-Provence dipindahkan pada tahun 1902 ke Pulau Jersey di Inggris. Teilhard pindah ke Jersey pada tanggal 26 Maret 1902, Teilhard mengambil sumpah pertamanya di Society of Jesus. Kehidupan keagamaan Teilhard terganggu disebabkan oleh sakit Marguerite-Marie (adik perempuan), kemudian kematian Alberic (kakak laki-laki) pada September 1902, lalu disusul oleh kematian Louise (adik bungsu). Hal ini menyebabkan keguncangan pada diri Teilhard.

Teilhard magang mengajar di perguruan tinggi milik Jesuit pada tahun 1905, yaitu Santo Fransiskus di Kairo. Kecenderungan Teilhard sebagai naturalis dikembangkan disini. Teilhard mempelajari flora dan fauna yang ada, dan juga fosil di Mesir. Teilhard disamping melakukan tugas mengajar, dia dengan tekun juga mengumpulkan fosil dan berkorespondensi dengan naturalis di Mesir dan Perancis. Tahun 1907, Teilhard menerbitkan artikel pertamanya berjudul “A Week in Fayoum.” Teilhard kembali ke Inggris untuk menyelesaikan studi teologi di Ore Place di Hastings. Selama tahun 1908-1912, Teilhard menjalani kehidupan ketat dari sekolah skolastik Jesuit. Hubungan dekat dengan keluarga tetapa dipertahankan dan ini jelas tampak pada kedalaman perasaan yang diekspresikan pada kematian Francoise (kakak perempuan) pada tahun 1911 di Cina. Kakak perempuannya ini adalah satu-satunya anggota keluarganya yang juga menempuh kehidupan sebagai agamawan dan menjadi “Little Sister of the Poor” yang bekerja di antara orang miskin di Shanghai.

Teilhard menunjukkan minat pada teologi dan juga eksplorasi geologi selama di Hastings, sehingga di waktu senggang dia pergi ke tebing kapur di Hastings atau tanah liat di Weald. Ada 3 perkembangan yang berbeda, namun saling terkait terjadi selama periode ini yang secara signifikan mempengaruhi arah masa depan kehidupan Teilhard. Ini adalah: membaca “Creative Evolution” karya Henri Bergson, serangan anti-Modernisme oleh Paus Pius X, dan penemuan gigi fosil di wilayah Hastings.

Teilhard melanjutkan studinya di bidang paleontologi pada tahun 1912-1915. Teilhard mengembangkan keahlian di geologi Periode Eosen yang membuatnya mendapatkan doktor pada tahun 1922. Teilhard juga bergabung dengan ahli paleontologi lainnya, seperti: Abbe Henri Breuil, Pastor Hugo Obermaier, Jean Boussac, dan lain-lain dalam penggalian mereka di gua-gua Perancis Selatan.

Teilhard mengembangkan pemikirannya sampai pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914. Teilhard bertugas sebagai tenaga medis. Pimpinan Jesuit memutuskan untuk mengirim Teilhard kembali kembali ke Hastings. Dua bulan kemudian ada kabar bahwa Gonzague (adik laki-laki) telah tewas dalam pertempuran dekat Soissons. Teilhard kemudian menerima perintah untuk melapor di resimen yang baru terbentuk dari Auvergne. Setelah mengunjungi orang tua dan saudaranya di Sarcenat, ia mulai tugasnya sebagai pembawa tandu di Afrika Utara pada Januari 1915.

Dampak yang  kuat dari perang dicatat dalam surat Teilhard kepada Marguerita (sepupu). Tergambar bagaimana sikap Teilhard sebagai “tentara-imam” dan kerendahan hatinya dalam melayani yang terluka. sekaligus tampak visi mistik dari Teilhard yang melihat dunia di tengah-tengah perang. Hampir 4 tahun terjadi pertempuran berdarah di parit, dimana resimen yang diikuti Teilhard bertempur di beberapa pertempuran paling brutal di Marne dan Epres pada tahun 1915, Nieuport pada tahun 1916, Verdun tahun 1917, dan Chateau Thierry tahun 1918. Teilhard sendiri aktif terlibat di resimennya, sehingga dianugerahi “Chevalier de la Legion d’Honneur” pada tahun 1921. Tanggal 10 Maret 1919, Teilhard kembali ke Jersey untuk jangka waktu penyembuhan dan studi persiapan untuk gelar doktor dalam geologi.

Teilhard dan Licent melakukan ekspedisi ke gurun di barat dari Peking pada Juni 1923, dekat perbatasan dengan Mongolia. Ekspedisi ini memberikan informasi berharga kepada Teilhard tentang Paleolitikum di Cina. Korespondensi Teilhard selama periode ini tentang pengamatan terhadap masyarakat Mongolia, bentang darat, vegetasi, dan hewan. Teilhard berinteraksi dengan kelompok-kelompok etnis yang tak terhitung jumlahnya. Teilhard kembali ke Paris pada bulan September 1924 dan kembali mengajar di Institut Catholique.

Pemikiran Teilhard dianggap bermusuhan dengan pemikiran Katolik pada masa itu. Teilhard diminta untuk merubah pemikirannya oleh Pimpinan Jesuit masa itu. Tahun 1925, Teilhard sekali lagi diperintahkan untuk menandatangani pernyataan menyangkal teori kontroversial yang dicetuskannya. Rekan dari Teilhard di museum, yaitu Marcellin Boule dan Abbe Breuil merekomendasikan agar Teilhard meninggalkan Jesuit dan menjadi seorang imam diosesan. Temannya, Auguste Valensin dan yang lain-lain merekomendasikan Teilhard agar menandatangani pernyataan dan menganggap bahwa tindakan tersebut sebagai tanda kesetiaan kepada Ordo Jesuit dibanding sebagai persetujuan intelektual terhadap tuntutan tersebut. Teilhard menandatangani dokumen tersebut pada bulan Juli 1925, setelah satu minggu retret dan refleksi pada Latihan Ignasian.

Teilhard menumpang kapal uap menuju Cina pada musim semi tahun 1926. Periode kedua di Tientsin dengan Licent ditandai oleh sejumlah perkembangan yang signifikan. Kunjungan dari Putra Mahkota dan Putri Swedia dan kemudian dilanjutkan Alfred Lacroix dari Paris Museum of Natural History, memberikan semnagat baru pada Teilhard di Peking. Hai ini dengan adanya tim dari Amerika, Swedia, dan Inggris telah mulai bekerja pada sebuah situs yang bernama Chou-kou-tien. Teilhard bergabung dengan mereka dan memberikan kontribusi pengetahuan tentang formasi geologi Cina dan kegiatan pembuatan alat oleh manusia prasejarah di Cina.

Serangkaian korespondensi dilakukan Teilhard dengan atasannya yang akhirnya memungkinkan dia untuk kembali ke Prancis pada bulan Agustus 1927, tetapi sebelum Teilhard mencapai Marseille serangan baru dibuat pada pemikirannya karena serangkaian kuliah yang diterbitkan dalam jurnal Paris. Akhirnya pada bulan Juni 1928, asisten dari Pimpian Jesuit tiba di Paris untuk memberitahu Teilhard bahwa dia harus membatasi dirinya untuk karya ilmiah. Teilhard terpaksa kembali ke China pada November 1928.

Teilhard mengasingkan diri selama 11 tahun di Cina, kembali ke Perancis hanya untuk lima kunjungan singkat. Kunjungan ini adalah untuk melihat keluarga dan teman-teman yang menerima distribusi salinan artikel, serta untuk memberikan ceramah kepada klub mahasiswa di Belgia dan Paris yang terus menyediakan forum untuk ide-idenya. Tahun-tahun ini juga sangat kaya ekspedisi geologi untuk Teilhard. Teilhard melakukan perjalanan ke Somalia dan Ethiopia pada tahun 1929, sebelum kembali ke China. Teilhard memainkan peran utama dalam menemukan dan interpretasi “Peking Man” di Chou-kou-tien di 1929-1930. Teilhard bergabung dengan “Ray Chapman Andrew’s Central Mongolian Expedition” atas undangan dari American Museum of Natural History pada tahun 1930. Teilhard melakukan perjalanan di seluruh Amerika yang mengilhaminya untuk menulis “The Spirit of the Earth” pada tahun berikutnya.

Teilhard melakukan perjalanan ke Asia Tengah dengan “Yellow Expedition” yang disponsori oleh perusahaan mobil Citroen pada Mei 1931 sampai Februari 1932. Teilhard dengan George Barbour melakukan perjalanan menyusuri Sungai Yangtze dan ke daerah pegunungan Szechuan pada tahun 1934. Setahun kemudian bergabung dengan ekspedisi Yale-Cambridge dibawah Helmut de Terra di India dan setelah itu dengan ekspedisi von Koenigswald di Jawa. Teilhard dianugerahi medali Gregor Mendel pada Konferensi Philadelphia untuk prestasi ilmiah pada tahun 1937. Tahun yang sama pergi dengan “Harvard-Carnegie Expedition” ke Burma dan kemudian ke Jawa dengan Helmut de Terra. Hasil dari kerja lapangan ini membuat Teilhard diakui sebagai salah satu ahli geologi terkemuka. Ketenaran ini, selain teori aslinya pada evolusi manusia, membuatnya kehadirannya berharga bagi pemerintah Perancis di kalangan intelektual timur dan barat. Prestasi profesionalnya menjadi lebih penting, karena antara tahun 1932-1936 ketika itu ayahnya, ibunya, Victor (adik laki-laki), dan Guiguite (adik perempuan) meninggal dunia, dimana Teilhard tidak hadir disana.

Teilhard dan Pierre Leroy mendirikan Institute of Geobiology di Peking untuk melindungi koleksi Emile Licent dan untuk menyediakan laboratorium interpretasi fosil pada tahun-tahun terakhir pengasingan di Cina antara 1939-1946. Pencapaian yang paling signifikan dari periode ini, bagaimanapun, adalah penyelesaian buku “The Phenomenon of Man” pada bulan Mei 1940. Sebuah kontribusi penting adalah cara kreatif dimana Teilhard menempatkan munculnya manusia sebagai tema pemersatu dari proses evolusi. Teilhard mendapat izin untuk kembali ke Perancis setelah berakhirnya Perang Dunia II. Teilhard mengirimkan ulang salinan “The Phenomenon of Man” ke Roma meminta izin untuk publikasi, izin tidak diberikan, dan Teilhard sadar bahwa izin tidak akan diberikan selama hidupnya. Kelelahan yang dialami menyebabkan Teilhard terkena serangan jantung pada 1 Juni 1947 dan ini berarti penundaan untuk bergabung dengan University of California dalam ekspedisi ke Afrika disponsori Viking Fund of the Wenner-Gren Foundation di New York.

Teilhard melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan diundang untuk memberikan serangkaian kuliah di Columbia University pada Oktober 1948, tetapi iIzin ditolak oleh Pimpinan Jesuit disana. Teilhard menerima undangan untuk datang ke Roma membahas kontroversi seputar pemikirannya pada Juli 1948. Secara bertahap Teilhard menyadari bahwa masa depan karyanya tergantung pada pertemuan ini. Teilhard datang ke Roma dan tinggal di kediaman Jesuit di Vatican City. Teilhard melakukan beberapa kali pertemuan dengan Pimpinan Jesuit, Fr. Janssens dan kemudian Teilhard menyadari bahwa ia tidak akan diizinkan untuk mempublikasikan karyanya selama hidupnya. Teilhard tidak akan diberikan izin untuk menerima posisi di College de France. Selama dua tahun ke depan Teilhard bepergian di Inggris, Afrika, dan Amerika Serikat mencoba untuk menentukan tempat yang tepat untuk hidup, karena sekarang bahwa Cina tidak lagi terbuka.

Teilhard menerima posisi sebagai peneliti Wenner-Gren foundation di New York pada Desember 1951. Keputusan Teilhard untuk tinggal di New York telah disetujui oleh Pimpinan Jesuit. Teilhard tinggal di dengan seorang pastor Jesuit di Gereja St. Ignatius di Park Avenue dan berjalan ke kantornya di Wenner-Gren Foundation. Teilhard mengunjungi Perancis untuk terakhir kalinya pada tahun 1954. Teilhard dan Leroy bersama menuju selatan ke gua di Lascaux dan sebelum mengunjungi Lascaux mereka berhenti di Sarcenat bersama dengan Rhoda de Terra yang telah bergabung dengan mereka. Tanpa bicara mereka berjalan melalui ruang sampai mereka datang ke kamar ibunya dan kursinya. Saat itulah Teilhard berbicara, setengah mengatakan pada dirinya sendiri, “Ini adalah ruang di mana aku lahir.” Berharap untuk menghabiskan tahun terakhirnya di negara asalnya. Teilhard meminta izin kepada atasannya untuk kembali ke Prancis secara permanen, tetapi ditolak secara sopan dan didorong untuk kembali ke Amerika. Pierre Teilhard de Chardin meninggal pada hari Minggu Paskah, 10 April 1955 at 06:00 di sore hari. Pemakamannya pada Senin Paskah dihadiri oleh beberapa teman. Pastor Leroy dan pastor dari St Ignatius menemaninya ke pemakaman enam puluh mil bagian utara dari New York. Teilhard dimakamkan di St Andrews-on-Hudson.

Pemikiran Teilhard mensintesakan antara agama Kristen dengan teori evolusi. Buku Teilhard yang berjudul “The Descent of Man” memberi pilihan bagi para teolog, yaitu: (1) Menolak teorinya, pilihan ini hanya dipilih oleh sebagian kecil saja, (2) Menyesuaikan ilmu evolusi dengan teologi Kristen tradisional, ini menjadi pilihan mayoritas, meski ada yang lebih mempertahankan ortodoks, (3) Menafsirkan kembali teologi Kristen. Ketiga ini tentu merupakan pilihan yang masing-masing memiliki konsekuensi tersendiri, mengingat bagaimana kerasnya penolakan dari otoritas “gereja” saat Teilhard ingin mempublikasikan pemikirannya.

Darwin terkenal dengan karyanya “The Origin of Species”, sementara Teilhard terkenal dengan karyanya “The Phenomenon of Man.” Pembahasan Darwin berhenti pada tataran fisiologis atau segi jasmani makhluk hidup, seperti perkembangan tulang dahi pada manusia mulai dari yang rata hampir datar hingga tegak seperti sekarang ini, sedangkan karya Teilhard, tidak hanya menyentuh apa yang jasmaniah, ketubuhan, tetapi sampai pada yang rohaniah. Penyelidikan Teilhard adalah perhatiannya terhadap taraf pra kehidupan, materi mati sebagai bahan pembentuk dunia. Teilhard menentang pendapat yang menyatakan bahwa dunia statis, konsep ini dinilai keliru. Pembahasan mengenai pra kehidupan, Teilhard mengulas keberadaan dunia materi, tetapi pembahasannya tidak hanya sampai di situ, menurutnya, materi pun mempunyai daya atau kekuatan untuk bertumbuh dan berkembang dalam dirinya. Teilhard melihat seluruh proses sejarah ini sebagai suatu peristiwa kultural yang bersifat evolutif, menurutnya dalam tahapan-tahapan evolusi inilah terjadi bumi, terjadinya hidup, dan kebudayaan.

Teilhard memandang materi elemental sejak dari awal dalam keadaan dasarnya sudah mengungkapkan diri sendiri-sendiri, namun pada dasarnya saling berhubungan, serta luar biasa aktifnya. Ada tiga muka materi, yaitu: kemajemukan, kesatuan, dan energy. Sifat alam semesta yang secara mendasar atomic terlihat dalam pengalaman sehari-hari, pada titik-titik air hujan dan butir-butir pasir, pada segala kelompok hidup, dan banyaknya bintang-bintang. Manusia tidak memerlukan mikroskop ataupun analisis elektronik untuk menduga bahwa hidupnya dikelilingi dan bertumpu pada debu. Pengalaman-pengalaman indrawi sesungguhnya adalah suatu pemadatan yang mengapung di atas kerumunan partikel yang tidak dapat dirumuskan.

Materi semakin dipecahkan, maka semakin menyatakan kesatuan dasarnya, dimana dalam bentuknya yang paling tidak sempurna, tetapi yang paling sederhana untuk dibayangkan, kesatuan ini mengungkapkan dirinya dalam kesamaan yang mengejutkan dengan unsur-unsur yang dijumpai. Semua hal yang membuat kehidupan jadi indah akan menghilang pada tingkat-tingkat yang lebih dalam. Semua zat yang menjadikan materi tersebut dapat direduksikan/ dipulangkan pada sesuatu jenis substansi yang sederhana dan unik, demikian itulah yang disebut kesatuan homogenitas. Masing-masing dari materi itu hanya dapat dirumuskan berdasarkan pengaruhnya atas segala yang di sekelilingnya. Ada kesatuan kolektif yang tidak tidak terhitung banyaknya, yang bersama-sama ikut ambil bagian dalam suatu volume materi, karena yang satu tidaklah bisa bebas dari yang lainnya.

Energy adalah ukuran/ tindakan dari apa yang beralih dari satu atom pada atom lain dalam berlangsungnya perubahan-perubahan dalam atom-atom tersebut, jadi sebagai suatu daya pemersatu. Atom menjadi diperkaya atau malah terkuras dalam berlangsungnya pertukaran tesebut. Energy sekalipun tidak pernah dijumpai dalam suatu bentuk murni, melainkan kurang-lebih dalam keadaan butiran (bahkan dalam cahaya), energy tetap merupakan bentuk zat semesta yang paling primitif (Teilhard, 2004: 18). Materi yang diungkapkan dalam pemikiran Teilhard tidak bisa dipandang sebagai ‘materi’ seperti anggapan umum tentang materi.

Bagi Teilhard dimensi kesadaran sejak semula ada pada materi. Kesadaran adalah dimensi balik kematerialan materi, maka tidak ada masalah bagaimana sesuatu yang murni material bisa mendadak mengembangkan kesadaran. Materi selalu mengandung dimensi kesadaran dan dalam ukuran materi terorganisasi lebih canggih, potensialitas kesadaran itu menjadi actual, artinya organisasi, dalam tingkat sentrasi – tetumbuhan karena memilih arah diferensiasi yang bukan sentrasi karena itu tidak mengembangkan kesadaran – menjadi semakin lebih sadar. Kesadaran tidak direduksi ke materi, juga bukan paralisme misterius perkembangan materi, melainkan ‘materi’ tak pernah semata-mata materi, tetapi ia sudah bersama dengan benih-benih kesadaran. Penjelasan ini  menjadi  penting karena membawa pengaruh  yang besar dalam menjelaskan pemikiran Teilhard tentang evolusi.

Evolusi bumi tidak hanya berhenti pada berkembangnya variasi makhlukhidup dari hewan bersel satu menjadi hewan bersel banyak dan kompleks seperti semut, gajah, atau manusia. Evolusi berlangsung pada tataran yang kasat mata, yaitu  kesadaran.  Teihard  menyebut  kesadaran  tersebut  sebagai  hakikat  batin. Teilhard berpendapat  bahwa jagad raya ini berevolusi penuh kesulitan, tetapi mantap dari biosfer ke noosfer terus ke kesatuan Titik Omega. Titik Omega adalah horizon di masa depan   yang  menjadi  tujuan   seluruh evolusi kosmos dan tentu ada energi yang menggerakannya. Tuhan memainkan peranan sentral dalam pemikiran Teilhard dan menyebut Tuhan itu Omega, Teilhard menulis: “Tuhan yang dinantikan pastilah yang seluas dan semisterius kosmos, yang sedekat dan merangkum semua sebagai hidup, yang seerat dengan usaha kita seperti manusia.

Teilhard membagi sejarah alam dalam tiga tahap besar, yaitu geogenesis atau terjadinya bumi dengan segala unsur-unsur kimia di dalamnya, biogenesis atau lahirnya makhluk hidup di muka bumi, dan noogenesis atau lahirnya kesadaran pada makhluk hidup yang disebut manusia. Biogenesis menghasilkan lapisan yang disebut sebagai biosphere yaitu tataran alam jasmani makhluk hidup yang bertubuh, sementara noogenesis membentuk lapisan noosphere atau kesadaran. Kesadaran yang dimakud di sini adalah kesadaran dengan intensitas setara dengan kesadaran pada manusia.

Teilhard sebagai ilmuwan yang ikut serta dalam banyak ekspedisi arkeologi mulai dari Afrika, Burma, Jawa, hingga daratan China, Teilhard mengamati secara seksama perubahan sistem syaraf dan otak makhluk hidup khususnya manusia dari satu spesies ke spesies berikutnya. Ada dua unsur utama yang menjadi tolok ukur kemajuan, yaitu: 1. sistem syaraf yang semakin sempurna dan terpusat, 2. otak yang menjadi lebih besar dan rumit. Keduanya hanyalah perubahan pada tingkat fisiologis, namun baik otak maupun saraf adalah organ yang memungkinkan akan hadirnya kesadaran. Ini semakin menguatkan pendapat Teilhard bahwa evolusi pertama-tama bukan perubahan dan perkembangan tataran jasmani, tetapi tataran rohani, yaitu adanya kehendak yang kuat dari kesadaran untuk mencapai puncak evolusinya.

Perjuangan untuk tetap hidup dan seleksi alam seperti diterangkan Darwin memegang peran penting dalam evolusi, tetapi perkembangan kehidupan menuju bentuk yang lebih kompleks dari makhluk bersel tunggal menjadi bersel banyak hanya mungkin diterangkan dengan adanya hakikat batin yang terus berevolusi. Kesadaran harimau untuk bertahan hidup di tengah-tengah dunia hewan mendorongnya untuk memperkembangkan taring yang panjang dan kuku yang kokoh, selain dipakai untuk pertahanan diri, kuku dan taring itu berguna untuk berburu demi kelangsungan hidupnya.

Manusia berbeda dari harimau atau spesies lainnya, karena pada manusia perkembangan fisik luaran tidaklah semaju hewan-hewan buas di padang belantara. Manusia tidak mengembangkan cakar, tanduk, hidung yang panjang, atau taring. Hakikat batin pada manusia mengarahkan perkembangan pada penyempurnaan otak dan sistem syaraf sehingga kesadaran manusia melompat jauh meninggalkan makhluk-makhluk lainnya. Apa yang menjadi kelebihannya adalah kesadarannya tidak sekadar membantunya untuk melihat hal-hal di luar dirinya, tetapi juga bisa melihat ke dalam dirinya dengan mempertanyakan siapa dirinya.

Riwayat & Pemikiran Pyrrho

 A. Pendahuluan

Skeptisisme/skeptis berasal dari kata skeptikos dari Bahasa Yunani yang berarti “penanya”, seseorang yang tidak puas dan terus-menerus mencari kebenaran. Pyrrho secara umum diterima sebagai Bapak Skeptisisme. Skeptisisme selalu memiliki peran penting dalam sejarah filsafat hingga masa kini, karena memang tidak pernah ada kepastian dalam hal argumen dan pembuktian, meski baru pada abad 20 hal ini baru diakui secara umum. Usaha dalam hal mengejar kepastian merupakan topik sentral dalam sejarah filsafat. Argumen yang valid hanya membuktikan kesimpulan yang ditarik sesuai dengan premis-premisnya, namun tidak serta merta membuktikan bahwa kesimpulan itu benar. Sebuah argumen yang valid dimulai dengan “jika”: jika p benar, maka q pasti benar, sekarang masalahnya, apakah p itu benar?

Sikap skeptis dalam filsafat sendiri sebenarnya sudah dimulai oleh Xenophanes yang mengajarkan bahwa, meskipun kita selalu dapat belajar lebih banyak daripada yang kita ketahui, kita tidak pernah yakin dapat mencapai kebenaran final tentang apapun juga, tetapi Xenophanes percaya kita dapat mengurangi kadar ketidaktahuan kita asalkan kita berusaha. Sokrates menyatakan bahwa, satu-satunya hal yang dia ketahui adalah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa sama sekali, namun Sokrates tetap percaya bahwa pengetahuan adalah hal yang mungkin dan yang lebih penting adalah Sokrates selalu berusaha mencari pengetahuan. Xenophanes dan Sokrates mengambil sikap positif terhadap pencarian pengetahuan serta kemungkinan untuk belajar.

 

B. Riwayat Hidup Pyrrho

Pyrrho/Pyrrhon hidup pada tahun 360 – 270 SM, berasal dari Elis di Semenanjung Peloponnesos daerah Yunani Selatan. Festival Olimpiade pertama kali diselenggarakan di salah satu kota di Elis, yaitu Olympia pada tahun 776 SM. Pyrrho muda adalah seorang pelukis yang cukup menjanjikan dan karya lukisannya telah dipamerkan di gimnasium di Elis. Pyrrho tertarik dengan filsafat setelah membaca karya Democritus. Dia kemudian menjadi murid dari Bryson of Achaea dan The Son of Stilpo, dimana keduanya merupakan murid dari Megarian School, sebuah akademi filsafat yang mengikuti ajaran dari Sokrates. Pyrrho kemudian belajar juga pada Anaxarchus of Abdera, seseorang yang pernah menjadi murid dari Democritus.

Pyrrho dan Anaxarchus lalu mengikuti Alexander Agung untuk mengeksplorasi ke Dunia Timur dan belajar pada Kaum Gymnosophists (Orang Bijak Telanjang) di India, serta Kaum Majus (sarjana dan orang bijak) di Persia. Kaum Gymnosophists adalah alah satu sekte pertapa Hindu kuno yang memakai sedikit atau tidak ada pakaian sama sekali dan dikhususkan untuk kontemplasi mistik. Kaum Gymnosophist ini menganggap makanan dan pakaian yang merugikan kemurnian pemikiran sehingga menghambat dalam berlatih meditasi. Kaum Majus adalah salah satu dari klan pada masyarakat Persia kuno yang mengkhususkan diri dalam kegiatan pemujaan. Kaum Majus juga diasosiasikan dengan penyihir dan peramal, terutama di Babilonia. Selama kekaisaran Persia berlangsung selalu ada perbedaan antara Kaum Majus Persia, yang dikreditkan dengan pengetahuan agama yang mendalam dan luar biasa dengan Kaum Majus Babilonia yang sering dianggap penipu. Legenda Persia menyatakan bahwa Kaum Majus datang dari Ecbatan, sebuah kota di Iran Barat. Saat dalam eksplorasi ke Dunia Timur, Pyrrho melihat bahwa, ketika masyarakat di suatu daerah mempercayai sesuatu, hampir selalu ada masyarakat di daerah lain yang mempercayai sebaliknya.

Setelah Pyrrho kembali ke Elis, dia memutuskan hidup dalam kesendirian dan kemiskinan, meski demikian Pyrrho sangat dihormati di Elis dan mendapat hak-hak kewarganegaraan Athena. Pyrrho sendiri tidak meninggalkan karya yang ditulisnya sendiri, ajaran Pyrrho dikenal lewat Timon of Phlius (The Sillographer) yang berupa syair sindiran (The Silloi) dan tulisan dari Antigonus of Carystus, tetapi karya ini tidak banyak tertinggal. Pemikiran Pyrrho lebih banyak dikenal berkat buku “the Outlines of Pyrrhonism” oleh Sextus Empiricus yang merupakan murid dari Akademi Pyrrhonism. Akademi ini sendiri didirikan oleh Aenesidemus pada abad 1 SM. Kisah Pyrrho juga ditulis oleh Diogenes Laertius dalam tulisannya “Life of Pyrrho”.

 

C. Tentang Pemikiran Pyrrho

Pemikiran Pyrrho yang ditulis oleh Timon of Phlius dalam bentuk syair sindiran merupakan sumber yang paling bisa dipercaya, namun ada masalah juga dalam menafsirkan tulisan tersebut karena Timon menulisnya dalam kapasitas sebagai pemuja dari Pyrrho, bukan sebagai seorang reporter yang netral. Informasi lain tentang Pyrrho dan pemikirannya juga ditulis oleh Antigonus of Carystus, namun apa yang ditulis oleh Antigonus ini malah mengandung banyak kelemahan dari segi keabsahannya, disebabkan dia bukanlah seoarang filsuf seperti hal nya Timon, jadi tidak mungkin Antigonus dapat memahami pemikiran Pyrrho dengan baik. Antigonus sendiri lebih dikenal sebagai penyedia bahan gosip dibanding sejarahwan handal, mungkin saja tulisannya mengandung informasi sesungguhnya tentang sikap dan kegiatan Pyrrho, tetapi juga mungkin mengandung aneknot yang dipertanyakan kebenarannya. Sumber lain tentang Pyrrho adalah tulisan Sextus Empiricus dan Diogenes Laertius, namun keduanya menulis beberapa abad setelah meninggalnya Pyrrho, sehingga ketepatannya juga sangat dipertanyakan.

Sekembali dari penjelajahan Dunia Timur, Pyrrho malah frustasi dengan pernyataan Stoa dan Epicurus akan klaim memiliki pengetahuan, maka Pyrrho mendirikan sekolah sendiri. Pyrrho mengajarkan bahwa setiap objek pengetahuan manusia melibatkan ketidakpastian dan tidak mungkin sampai pada pengetahuan tentang kebenaran. Jika Stoa dan Epicurus berpijak pada pengetahuan positif, maka Pyrrho melakukan pengingkaran terhadap pengetahuan. Pyrrho memiliki prinsip-prinsip sendiri dengan mengawali semua pengamatan dengan “kelihatannya” atau “kelihatannya bagi saya” atau “ini mungkin saja” dibanding berkata “ini adalah”. Pyrrho mengabaikan kesakitan dan tidak menunjukkan ketakutan ketika berada dalam bahaya. Diogenes Laertius menggambarkan Pyrrho dalam kalimat “He lead a life consistent with his doctrine, going out of his way for nothing, taking no precaution, but facing all risk as they came, whether, carts, dogs, or precipices ….”. Kisah hidup Pyyrho kadang kala disampaikan sebagai anekdot, dikatakan bahwa setelah Pyyrho menerima segala bentuk pengetahuan adalah mungkin, maka dia tidak lagi pernah mengandalkan indera untuk survei lingkungannya. Pyrrho dikatakan bisa saja berjalan sembarangan di jalan yang sibuk atau berkeliaran di tepi tebing berbahaya, jadi dapat dikatakan bahwa hanya melalui ketekunan para pengikutnya yang secara teratur akan menariknya dari situasi berbahaya yang menyebabkan dia tidak ketemu kematian sebelum waktunya.

Prinsip utama pemikiran Pyrrho ini dinyatakan dalam istilah “acatalepsia” atau “seseorang tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu”, yang berarti kemampuan untuk menahan persetujuan dari doktrin tentang kebenaran hal di alam mereka sendiri. Pyrrho beragumen bahwa kita hanya tahu bagaimana hal-hal muncul dihadapan kita, tetapi tidak mengetahui bagaimana substansi batin mereka. Hal yang sama dapat tampil berbeda untuk orang yang berbeda, maka itu tidak mungkin untuk mengetahui opini yang tepat. Buktinya, keragaman pendapat dari para orang bijak tentang hal yang sama, dengan demikian, jika kontradiksi dapat maju terhadap sebuah pernyataan dengan pembenaran yang sebanding dan tidak ada pernyataan dapat diketahui lebih baik daripada yang lain. Hal ini perlu adanya penangguhan penilaian dengan menegaskan tidak ada yang pasti dan tidak pernah membuat pernyataan positif atas masalah apapun, meski masalah sepele.

Filsafat Pyrrho seperti hal nya aliran filsafat umumnya pada Zaman Pasca Aristotelian yang semata-mata pandangan praktis. Skeptisisme tidak mengarahkan pada tujuan spekulatif, Pyrrho melihatnya sebagai jalan menuju kebahagiaan dan melarikan diri dari bencana kehidupan. Pyrrho menyatakan bahwa satu-satunya sikap yang tepat untuk menerapkan ide-ide ini untuk etika dan kehidupan secara umum adalah dengan “ataraxia” atau “kedamaian batin” atau “kebebasan dari kekhawatiran” atau “sikap apatis”. Pyrrho beragumen bahwa, karena tidak dapat diketahui, tidak ada yang bisa sendiri menjadi baik atau jahat, itu hanya opini, adat, dan hukum yang membuatnya tampil begitu. Tidak ada alasan yang lebih baik untuk memilih tindakan yang satu dibanding tindakan yang lain, karena itu harus meninggalkan semua keinginan, sebab keinginan itu didasarkan pada opini yang tidak dapat dipertahankan dari opini lainnya. Dasar apatis ini, membuat orang seharusnya hidup dalam ketenangan jiwa, bebas dari keinginan, bebas dari semua delusi. Ketidakbahagiaan adalah hasil dari tidak mencapai apa yang diinginkan (atau kehilangan itu, setelah mencapainya); dengan demikian orang bijak akan bebas dari keinginan, juga bebas dari ketidakbahagiaan.

Menurut Pyrrho, untuk menjadi bijak, harus bertanya pada diri sendiri 3 pertanyaaan. Pertama, kita harus bertanya tentang hal-hal dan bagaimana mereka dibentuk. Kedua, kita harus bertanya bagaimana mereka berhubungan dengan hal-hal tersebut. Ketiga, kita harus bertanya bagaimana bersikap terhadap mereka. Jawaban Pyrrho adalah bahwa hal-hal yang tidak bisa dibedakan, beragam, dan diputuskan dan tidak lebih dari ini itu, atau keduanya ini dan itu, dan tidak ini atau itu. Pyrrho berpendapat bahwa indra tidak memberitahu kebenaran juga tidak berbohong, maka kita sebenarnya hanya tahu bagaimana hal-hal itu muncul, tetapi substansinya tetap kita tidak tahu. Ketidakmungkinan mengetahui, bahkan dalam ketidaktahuan sendiri atau keraguan, harus memimpin orang bijaksana untuk menarik ke dalam dirinya sendiri. Orang bijak harus menghindari stres dan emosi yang secara alamiah menyertai imajinasi yang sia-sia.

 

D. Tentang Pyrrhonian & Pemikirannya

Pengikut Pyrrho (The Pyrrhonians) percaya bahwa (tetapi tidak akan mengiyakan dengan klaim) ada dua potensi sumber pengetahuan: persepsi dan penalaran. Bila hasil persepsi diperkenalkan untuk menyelesaikan masalah dalam mengatakan warna yang sebenarnya tidak jelas sebagai suatu objek, mereka akan menunjukkan beberapa atau semua hal berikut:  (1) Anggota spesies binatang yang berbeda mungkin melihat warna cukup berbeda karena mata mereka dibangun berbeda, (2) Anggota dari spesies yang sama akan memiliki persepsi yang berbeda dari warna tergantung pada hal-hal seperti kondisi mata mereka, sifat media persepsi (berbagai kondisi cahaya misalnya), dan urutan di mana objek yang dirasakan. Diingatkan tentang relativitas persepsi, membuat seseorang untuk menahan diri dari menyetujui aturan penilaian persepsi.

Timon of Phlius (320 – 230 SM) menyokong skeptisisme dengan argumen-argumen yang lebih substansial secara intelektual. Timon menjelaskan bahwa setiap argumen dan pembuktian berangkat dari premis-premis yang belum terbukti. Saat kita berusaha membuktikan kebenaran premis-premis itu dengan argumen atau bukti-bukti lain, maka mereka didasarkan pada premis-premis yang belum terbukti juga, begitu seterusnya hingga tak berhingga, sehingga tidak ada kepastian akhir yang akan dicapai. Penerus Timon, Arkesilaus (315 – 240 SM) mempunyai 2 metode utama dalam mengajar, awalnya dia akan menguraikan argumen kedua sisi suatu perkara dengan sama kuatnya, lalu dia berusaha mematahkan apapun yang dikedepankan oleh muridnya. Penerus Arkesilaus, Karneades (214 – 129 SM) menimbulkan kegemparan ketika berkunjung ke Roma dan memberikan serangkaian kuliah umum, dimana mulanya dia menjelaskan pandangan Plato dan Aristoteles tentang keadilan secara sangat meyakinkan, kemudian dalam kuliah kedua dia menyanggah segala hal yang telah dikemukakannya sebelumnya.

Sextus Empiricus adalah seorang Pyrrhonian yang karya-karyanya banyak bertahan hingga sekarang ini. Sextus Empiricus diperkirakan hidup pada abad ke-1 Masehi. Sextus diberi nama “Empiricus” karena memiliki “Empirical School of Medicine”. Karyanya yang berjudul “the Outlines of Pyrrhonism” dianggap sebagai karya terbaik yang menggambarkan tentang skeptisisme dari Pyrrhonian. Skeptisisme yang modern mempertanyakan kemungkinan pengetahuan, sedangkan skeptisisme

Pyrrhonian mempertanyakan rasionalitas keyakinan. Ketika Anda menyelidiki apakah P, ada tiga kemungkinan: (1) Anda menemukan sesuatu (Anda menemukan bahwa alasan untuk percaya bahwa itu P dan satunya lagi tidak percaya kalau itu P, manakah yang lebih dipercaya antara alas an yang satu dengan alasan yang lain), atau (2) Anda menyangkal bahwa itu adalah mungkin untuk mengetahui apakah P, atau (3) Anda menemukan bahwa sejauh ini, alasan untuk percaya bahwa P dan alasan untuk percaya bahwa itu tidak P dan itu sebabnya Anda kan terus menyelidikinya satu sama lain.

Ada 10 macam mode/ kunci dalam melakukan sikap “skeptis”, yaitu: (1) Mode tergantung pada variasi antara hewan, (2) Mode tergantung pada perbedaan di antara manusia, (3) Modus tergantung pada pembawaan tubuh yang berbeda dari rasa organ, (4) Mode tergantung pada keadaan, (5)Mode tergantung pada posisi dan interval dan tempat-tempat, (6) Mode tergantung pada admixtures/ campuran bahan, (7) Mode tergantung pada jumlah dan persiapan hal-hal yang ada, (8) Modus yang berasal dari relativitas, (9) Mode tergantung pada sering atau jarang pertemuan, (10) Mode tergantung pada bujuk rayu, adat istiadat dan hukum dan kepercayaan mitos dan anggapan dogmatis. Sepuluh Mode digunakan oleh kaum skeptis untuk melawan dogmatis.

Bagian terpenting dari buku “the Outlines of Pyrrhonism” adalah diskusi panjang tentang “kriteria” atau “standar” kebenaran. Masalah kriteria kebenaran adalah masalah bagaimana kita menemukan atau memastikan kebenaran-kebenaran yang perlu kita cari untuk mencapai pengetahuan. Kriteria dari Epicurus dianggap sebagai kebenaran primitif, yaitu orang-orang yang harus menerima tanpa bukti atau argumen lebih lanjut. Epicurus adalah filsuf yang mendirikan Mazhab Epicurus bersama teman-temannya, yaitu Metrodoros, Hermarkhos, dan Polyaenos. Mazhab Epicurus termasuk dalam salah satu mazhab yang terutama pada masa Filsafat Helenistik. Inti ajaran Epicurus adalah mengenai etika, bahwa kebahagiaan hidup adalah kenikmatan. Kenikmatan adalah satu-satunya yang baik, serta menjadi awal dan tujuan hidup yang bahagia. Segala macam keutamaan, moral misalnya, hanya memiliki arti sejauh membawa manusia pada rasa nikmat.

Skeptisisme menegaskan bahwa tidak ada penemuan dapat dibuat dan Pyrrhonian terus menyelidiki dan mencari kebenaran. Skeptis belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, karena mereka masih menyelidiki mereka. Apa yang kemudian dimaksud dengan “Skeptisisme”? Bagi Sextus Empiricus, jawabannya adalah bahwa “hal itu adalah kemampuan atau keterampilan, bukan satu set keyakinan”. Sextus Empiricus mengatakan bahwa kemampuan khas “Skeptis” adalah salah satu yang memungkinkan pemiliknya untuk menetapkan oposisi, sehingga tidak terjadi keputusan. Menurutnya, orang-orang telah menjadi skeptis karena mereka mencari ketenangan. Sebuah kasus, banyak orang yang menganggap tato sebagai hal memalukan dan aib, tetapi banyak orang di Mesir dan Sarmatians memberikan tato bayi mereka, dengan mempertimbangkan dua fakta ini, kita harus memberi kesan yang baik atau malah memberikan kesan yang buruk pada orang yang memiliki tato?

Riwayat Hidup Alasdair MacIntyre

Alasdair Chalmers MacIntyre lahir pada tanggal 12 Januari 1929 di Glasgow (Skotlandia) sebagai anak dari John dan Emily (Chalmers) MacIntyre. MacIntyre lahir sebagai putra satu-satunya dari dua orang dokter berkebangsaan Skotlandia, kedua orang tua MacIntyre merupakan lulusan dari Universitas Glasgow. MacIntyre bersekolah di Epsom College, sebuah sekolah umum di Inggris yang terletak di London bagian selatan. MacIntyre memiliki ketertarikan pada bidang ilmu klasik, yaitu mengenai Latin dan Yunani. MacIntyre terdaftar sebagai siswa dari Queen Mary College, Universitas London yang mengambil klasik sebagai bidang utama pada tahun 1947.

Studi yang dilakukan oleh MacIntyre tidak terbatas pada tata bahasa klasik saja, MacIntyre juga meneliti teori etika dari Immanuel Kant dan John Stuart Mill. MacIntyre menghadiri kuliah dari A. J. Ayer dan Karl Popper. MacIntyre juga mempelajari Tractatus Logico Philosophicus karya Ludwig Wittgenstein, L’existentialisme est un humanisme karya Jean Paul Sartre, dan Eighteenth Brumaire of Napoleon Bonaparte karya Karl Marx. MacIntyre bertemu sosiolog bernama Franz Steiner, sosiolog ini membantu mengarahkan MacIntyre mendekati moralitas secara substansial.

MacIntyre menempuh program pasca sarjana untuk bidang filsafat di Universitas Manchester. Studi klasik memberikan landasan yang kuat bagi MacIntyre dalam belajar Filsafat Yunani, karena MacIntyre bisa belajar karya Plato dan Aristoteles dalam bahasa asli. MacIntyre terbantu dalam menulis tentang Hukum Romawi dan para teolog gereja karena dapat membaca teks asli yang dalam Bahasa Latin. MacIntyre menerima gelar MA dan diangkat sebagai dosen dalam bidang filsafat agama pada tahun 1951. MacIntyre memulai karir mengajar di Inggris pada Universitas Manchester. MacIntyre juga mengajar di Universitas Leeds, Universitas Essex, dan Universitas Oxford.

MacIntyre datang ke Amerika Serikat dan mengambil posisi sebagai profesor sejarah pemikiran di Universitas Brandeis pada tahun 1969. MacIntyre lalu menjadi dekan di College of Liberal Arts dan profesor filsafat di Universitas Boston pada tahun 1972. MacIntyre diberi penghargaan sebagai Henry Luce Professor di Wellesley College di tahun 1980 dan penghargaan sebagai W. Alton Jones Proffesor di Universitas Vanderbilt di tahun 2007. MacIntyre diangkat sebagai presiden dari Eastern Division of the American Phylosophy pada tahun 1984. MacIntyre mengambil posisi sebagai profesor filsafat di Universitas Notre Dame di tahun 1985 dan di tahun yang sama pergi ke Universitas Vanderbilt di Nashville Tennessee. MacIntyre menjadi profesor filsafat di Universitas Vanderbilt sampai tahun1988.

MacIntyre menjadi mahasiswa tamu pada Whitney Humanities Centre di Universitas Yale dari tahun 1988 sampai 1989. MacIntyre menerima posisi sebagai McMahon-Hank Professor of Phylosopy di Notre Dame dari tahun 1989 sampai 1994. MacIntyre lalu menerima posisis sebagai Arts & Sciences Professor of Philosophy di Universitas Duke pada tahun 1995 sampai 1997. MacIntyre menjabat sebagai Rev. John A. O’Brien Senior Research Professor dan Permanent Senior Research Fellow di Universitas Notre Dame pada tahun 2000 sampai 2008. MacIntyre juga merupakan profesor emeritus di Universitas Duke University. MacIntyre terpilih ke dalam American Philosophical Society pada bulan April tahun 2005.

MacIntyre menerbitkan karya pertama yang berjudul “Marxisme: An Interpretation” pada tahun 1968. MacIntyre melihat diri sendiri sebagai seorang Kristen dan seorang Marxis pada saat itu dan buku tersebut adalah ekspresi dari sikap gabungan ini. MacIntyre lalu menjatuhkan kesetiaan pertama yang pada Marxisme dan yang kedua pada Kristen, namun pada publikasi buku tersebut, MacIntyre menolak untuk merevisinya. MacIntyre mencatat bahwa “Seseorang tidak dapat sepenuhnya membuang (Marxisme ataupun Kristen) tanpa mengabaikan kebenaran yang ada”. MacIntyre mencatat sejumlah kesamaan antara Marxisme dan Kristen, yaitu: sama-sama terus-menerus dibantah dan tetap bertahan hidup dan sama-sama ingin membebaskan diri dari relativitas sejarah. MacIntyre di kemudian hari mereklamasi kembali kesetiaannya pada Kristen, terutama pada tradisi Kristen yang dianut orang tuanya, meskipun MacIntyre juga menyebut dirinya sebagai “Kristen Augustinian” dan  MacIntyre tetap melihat Marxisme sebagai salah satu sistem yang koheren di zaman modern.

Alasdair MacIntyre disamping membahas tentang filsafat politik juga menulis karya mengenai teologi, Marxisme, rasionalitas, metafisika, etika, dan sejarah filsafat. MacIntyre telah membuat perjalanan intelektual pribadi dari Marxisme ke Katolik, dari Aristoteles ke Aquinas, dan merupakan salah satu filsuf politik Thomisme yang. Fitur yang paling konsisten dan paling khas dari karya MacIntyre adalah antipati kepada dunia kapitalis liberal modern. MacIntyre percaya bahwa sejarah filsafat adalah sangat relevan dengan kehidupan masa sekarang, pikiran dan sistem filosofis tokoh-tokoh seperti Aristoteles dan Aquinas bisa dan harus digunakan sebagai sudut pandang bagi pemikiran masa sekarang. MacIntyre berpendapat, sejarah filsafat tidak selalu tentang sejarah kemajuan yang semakin meningkat, sebaliknya tradisi yang ada sebelumnya dalam filsafat pada banyak hal jauh lebih memadai secara intelektual. Pola pemikiran dari MacIntyre dalam hal ini dapat disebut sebagai konservatif filosofis.

MacIntyre telah menulis 19 buku dan mengedit 5 buku lainnya. Karya MacIntyre yang paling penting, diantaranya: After Virtue yang disebut salah satu karya filsafat moral paling berpengaruh di abad ke-20, Marxism: An Interpretation, A Short History of Ethics, Marxism and Christianity, Against the Self – Images of the Age, Whose Justice? Which Rationality?, Three Rival Versions of Moral Enquiry, dan Dependent Rational Animals. Karya-karya MacIntyre telah membentuk filsafat moral akademik selama enam decade. A Short History of Ethics  menjadi teks standar untuk perguruan tinggi dalam sejarah filsafat moral selama bertahun-tahun, dan After Virtue menjadi buku teks tetap etika yang banyak digunakan dalam pendidikan sarjana dan pascasarjana. MacIntyre telah menerbitkan sekitar 200 artikel jurnal dan kira-kira 100 resensi buku, menangani masalah etika, politik, filsafat ilmu sosial, teori Marxis, praktik politik Marxis, gagasan Aristoteles tentang keunggulan atau keutamaan dalam seorang manusia, interpretasi metafisika Thomistik, epistemologi, dan tentu juga etika.

 

Sumber pustaka:

http://www.enotes.com/topics/alasdair-macintyre

http://www.giffordlectures.org/lecturers/alasdair-c-macintyre

http://www.iep.utm.edu/mac-over

http://www.iep.utm.edu/p-macint

http://www.mesacc.edu/ ~barsp59601/text/lex/defs/aretaic.html

 

The Soul Survives & Functions After Death

Tentang H.H. Price & Parapsikologi

Henry Habberley Price (17 Mei 1899 – 26 November 1984) adalah seorang filsuf Inggris dan ahli logika, yang dikenal dengan karyanya tentang persepsi dan pemikiran. Ia juga menulis tentang parapsikologi. Price mengajar di Magdalen College (1922-1924), Liverpool University (1922-1923), dan Trinity College (1924-1935) sebelum diangkat sebagai profesor logika di New College, Oxford (1935-1959). Buku awalnya, Perception (1932), menolak teori kausal persepsi dan berusaha untuk mengembangkan metode fenomenologis yang lebih canggih untuk mengartikulasikan hubungan antara gagasan akal-data dan benda-benda fisik. Pada bukunya Thinking and Experience (1953), ia pindah dari persepsi ke teori pemikiran, mengusulkan rencana kognisi konseptual, dimana konsep dianggap semacam kapasitas intelektual untuk mengenali. Teori Price membawanya untuk membuat proposisi logis tentang sifat dan keberadaan kesadaran tanpa tubuh, baik sebelum dan setelah kematian. Dia tetap tertarik dalam penelitian psikis sepanjang karirnya, dan menulis tentang religi, parapsikologi, dan fenomena psikis. Dia melihat telepati dan kewaskitaan (kemampuan meramal) sebagai pengaruh pada pikiran bawah sadar, dan percaya bahwa pengumpulan bukti empiris tentang pengaruh ini akan kelak akan tercapai.

Price berpikir argumennya tentang sifat pikiran menghasilkan kesimpulan logis yang memungkinkan untuk menawarkan proposisi bermakna tentang transenden dan paranormal. Selama karirnya ia membuat banyak kontribusi yang berharga terhadap ‘the Journal and Proceedings of the Society for Psychical Research,’ dan pada tahun 1839 ia menjabat sebagai presiden kelompok tersebut. Dalam pidato sebagai presiden kelompok tesebut, ia mengatakan bahwa pengalaman paranormal yang langka di antara orang-orang yang berpendidikan tinggi dan menyarankan sejumlah teknik dan praktik yang dapat meningkatkan persepsi ekstra-indrawi. Dia merekomendasikan berpikir dalam gambar visual, dan prosedur fisik seperti puasa dan latihan yoga. Price menyatakan bahwa dalam membahas penelitian psikis, resiko berbicara omong kosong jelas harus diambil, dan meramalkan bahwa di masa depan, keragu-raguan intelektual untuk mengakui ide-ide tersebut akan menjadi sumber hiburan.

Price tidak mempertanyakan apakah keberadaan sadar tanpa tubuh setelah kematian adalah benar, tetapi apakah seperti keberadaan bisa koheren dan dimengerti. Dia mengusulkan bahwa keberadaan ini analog dengan dunia mimpi, dan beralasan bahwa jika dunia mimpi adalah koheren, keberadaan sebagai kesadaran tanpa tubuh juga akan koheren. Sama seperti mimpi yang sering dibangun dari pendengaran, penciuman, sentuhan, dan citra visual yang diperoleh selama keadaan sadar, kesadaran setelah kematian akan dibangun dari citra mental yang diperoleh selama kehidupan fisik dan disimpan dalam memori. Mimpi sering didorong oleh keinginan, ketakutan, atau keinginan; dalam kesadaran cara yang sama setelah kematian akan dibentuk oleh peristiwa emosional dan mental seumur hidup fisik. Konflik atau keinginan buruk yang dialami selama masa fisik akan menciptakan lingkungan yang tidak menyenangkan bagi kesadaran tanpa tubuh.

Tidak seperti di dunia mimpi, di dunia berikutnya (setelah kematian) akan ada orang yang nyata dan berbeda, dan akan muncul satu sama lain dalam bentuk penampakan telepati (komunikasi pikiran ke pikiran yang dimediasi oleh bentuk-bentuk yang terlihat dan dikenali). Kesadaran tanpa tubuh akan merasa hidup, sama seperti yang dilakukan dalam mimpi. Dunia berikutnya akan kurang nyata dari yang ada sekarang, meskipun itu akan spasial berbeda dan beroperasi sesuai dengan hukum-hukum kuasi-fisik sendiri. Benda di dunia ini akan menempati semacam ruang mereka sendiri, seperti yang mereka lakukan di dunia fisik. Price percaya bahwa eksperimen dengan telepati mental memberikan bukti empiris yang cukup untuk membantah teori materialistik bahwa semua fenomena mental berasal dari proses fisik-kimia dalam tubuh manusia.

Parapsikologi merujuk pada studi ilmiah fenomena paranormal tertentu. Realitas ilmiah fenomena parapsikologi dan validitas penelitian parapsikologi ilmiah adalah masalah yang sering memunculkan sengketa dan kritik. Bidang ini dianggap oleh beberapa kritikus sebagai pseudosains (ilmu semu). Parapsikolog, pada mengatakan bahwa penelitian parapsikologi secara ilmiah ketat. Meskipun kontroversi, sejumlah organisasi dan program akademik telah diciptakan untuk melakukan penelitian ke dalam keberadaan, sifat, dan frekuensi terjadinya fenomena tersebut. Jadi, sementara penjelasan fenomena tersebut masih menghindar pemahaman ilmiah, kemungkinan bahwa manusia mungkin memiliki indra luar indra fisik diketahui yang memungkinkan komunikasi informasi diakui sebagai hal yang layak dipelajari.

Parapsikologi merujuk pada studi ilmiah fenomena paranormal tertentu. Diciptakan dari Bahasa Jerman oleh psikolog Max Dessoir pada tahun 1889, istilah itu diadopsi ke dalam Bahasa Inggris oleh peneliti JB Rhine. Dalam penelitian kontemporer, istilah ‘parapsikologi’ mengacu pada studi yang digunakan oleh parapsikolog untuk menunjukkan proses paranormal atau penyebab. Jenis-jenis anomali yang dipelajari oleh parapsikologi ada 3 kategori utama:

1. Mental: sering digambarkan sebagai indera tambahan, kategori ini meliputi kondisi mental yang tidak biasa atau kemampuan, seperti: telepathy, clairvoyance, precognition, psychometry, mediumship, clairaudience, dan clairsentience, serta lain sebagainya. Jenis fenomena ini melibatkan beberapa bentuk transfer informasi yang terjadi di luar batas-batas panca indera tradisional.

2. Fenomena fisik: kategori ini termasuk kejadian yang tidak biasa fisik, seperti psikokinesis (sering disebut sebagai telekinesis), roh jahat, materializations, dan bio-PK (interaksi mental langsung dengan sistem kehidupan). Jenis fenomena melibatkan pikiran mempengaruhi lingkungan fisik serta manifestasi fisik dari sumber yang tidak diketahui.

3. Fenomena kelangsungan hidup: berurusan dengan kelangsungan hidup kesadaran setelah kematian fisik. Termasuk dalam kategori ini adalah hantu, out-of-body experiences (pengalaman keluar dari tubuh), pengalaman reinkarnasi, pengalaman dekat dengan kematian.

Setiap kelompok mungkin memiliki standar mereka sendiri untuk menentukan ruang lingkup parapsikologi. Selain itu, subjek penelitian dapat jatuh ke dalam kategori yang berbeda bagi para peneliti yang berbeda. Sebagai contoh, beberapa parapsikolog percaya bahwa hantu adalah bukti kelangsungan hidup kesadaran, tetapi yang lain percaya mereka untuk tayangan psikis ditinggalkan oleh orang yang hidup. Ada juga sejumlah topik paranormal yang dianggap oleh sebagian besar menjadi keluar dari ruang lingkup parapsikologi, seperti Bigfoot dan makhluk legendaris lainnya, yang termasuk dalam lingkup cryptozoology.

 Sumber Referensi:

http://www.newworldencyclopedia.org/entry/H._H._Price

http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Parapsychology

*****

H.H. Price – Jiwa Yang Bertahan & Fungsi Setelah Kematian

H.H. Price (1899-1984) mencoba untuk memberikan makna terhadap gagasan dunia berikutnya yang dihuni oleh manusia tanpa tubuh. Di dunia ini, makhluk tanpa tubuh mempunyai gambaran jiwa, yang akan menjadi nyata bagi mereka yang memilikinya dan memberikan kesan mengamati benda-benda fisik. Dalam sebuah dunia, penggambaran, berpusat di sekitar gambaran tubuh fundamental, menggantikan persepsi indrawi, sedangkan pertemuan dengan orang-orang tanpa tubuh lainnya terjadi dengan telepati. Price lebih lanjut untuk mempertimbangkan dimanakah dunia lain ini, apakah dan dalam arti apa yang nyata, dalam arti apa itu bisa publik sebagai produk bersama banyak pikiran telepati berinteraksi, dan akhirnya peran keinginan dan kenangan dalam menciptakan dunia ini.

Saya di sini hanya prihatin dengan konsepsi kelangsungan hidup; dengan arti hipotesis kelangsungan hidup, dan tidak dengan kebenaran atau kepalsuan. Ketika kita mempertimbangkan hipotesis kelangsungan hidup, apakah kita percaya atau tidak percaya hal itu, apa itu yang kita miliki dalam pikiran? Bisakah kita membentuk ide, bahkan yang kasar dan sementara, apa kehidupan manusia tanpa tubuh itu mungkin? Seandainya kita tidak bisa, maka yang disebut hipotesis kelangsungan hidup adalah sekedar kata-kata, bukan sebuah hipotesis sama sekali. Bukti dikutip untuk itu mungkin masih menjadi bukti untuk sesuatu, dan mungkin untuk sesuatu yang penting, tapi kita seharusnya tidak lagi memiliki hak untuk mengklaim bahwa itu adalah bukti untuk kelangsungan hidup. Tidak bisa ada bukti untuk sesuatu yang benar-benar dimengerti kepada kita.

Sekarang mari kita mempertimbangkan situasi di mana kita menemukan diri kita setelah tujuh puluh tahun penelitian psikis. Sebuah masalah yang sangat besar pekerjaan yang telah dilakukan pada masalah kelangsungan hidup ……. Namun ada perbedaan terluas pendapat tentang hasilnya. Sejumlah orang cerdas akan mempertahankan bahwa kita sekarang memiliki banyak sekali bukti yang sangat besar mendukung kelangsungan hidup; beberapa di antaranya memiliki kualitas yang sangat baik, dan tidak dapat dijelaskan kecuali kita menganggap bahwa kekuatan kognitif supernormal beberapa pikiran manusia jauh lebih luas dan lebih akurat daripada yang kita dapat dengan mudah percaya mereka; singkatnya, bahwa bukti yang ada hipotesis kelangsungan hidup lebih mungkin dari pada tidak. Beberapa orang-dan tidak semua dari mereka adalah konyol atau mudah percaya-akan bahkan mempertahankan bahwa hipotesis kelangsungan hidup terbukti, atau sebagai dekat untuk menjadi sehingga setiap hipotesis secara empiris. Di sisi lain, ada juga banyak orang cerdas yang sepenuhnya menolak kesimpulan ini. Beberapa dari mereka, tidak diragukan lagi, tidak bersusah payah untuk memeriksa bukti. Tetapi yang lain memilikinya; mereka bahkan mungkin telah memberikan waktu studi untuk itu. Mereka setuju bahwa bukti bukti sesuatu, dan sangat mungkin sesuatu yang penting. Tetapi, mereka akan mengatakan, itu tidak bisa menjadi bukti kelangsungan hidup; harus ada beberapa penjelasan alternatif itu, namun sulit mungkin untuk mencari tahu. Mengapa mereka mengambil jalur ini? Saya pikir itu karena mereka merasa konsepsi kelangsungan hidup tidak dapat dimengerti. Gagasan dari ‘kepribadian manusia bertubuh’ tampaknya mereka kacau atau sesuatu yang tidak masuk akal; memang tidak tahu sama sekali, tetapi hanya ungkapan-sesuatu yang secara emosional menarik, tidak diragukan-tidak ada yang tidak ada arti yang jelas dapat diberikan ……. Sekarang mengapa harus berpikir bahwa gagasan tentang kehidupan setelah kematian adalah tidak dapat dimengerti? Tentunya hal ini cukup mudah untuk dipahami (apakah atau tidak itu benar) bahwa pengalaman mungkin terjadi setelah kematian Jones yang dihubungkan dengan pengalaman yang dia sebelum kematiannya, sedemikian rupa bahwa identitas pribadinya yang diawetkan? Tetapi, itu akan dikatakan, gagasan pengalaman setelah kematian hanya kesulitan. Apa jenis pengalaman yang bisa mereka dibayangkan menjadi? Dalam keadaan tanpa tubuh, pasokan rangsangan sensorik terpaksa terputus, karena pengalaman seharusnya tidak memiliki organ-organ indera dan tidak ada sistem saraf. Ada karena itu dapat menjadi tidak masuk akal-persepsi. Seseorang tidak memiliki sarana menyadari bahan benda lagi; dan jika seseorang tidak memiliki, sulit untuk melihat bagaimana orang bisa memiliki emosi atau keinginan baik. Untuk semua emosi dan keinginan yang kita miliki dalam kehidupan sekarang ini prihatin langsung atau tidak langsung dengan benda-benda material, termasuk tentu saja organisme kita sendiri dan organisme lain, terutama yang manusia lainnya. Singkatnya, sesuatu hanya bisa dikatakan memiliki pengalaman sama sekali, jika seseorang menyadari semacam dunia. Dengan cara ini, ide kelangsungan hidup terikat dengan gagasan ‘dunia lain’ atau ‘dunia berikutnya.’ Siapapun yang menyatakan bahwa gagasan kelangsungan hidup setelah semua dimengerti juga harus mengklaim bahwa kita dapat membentuk beberapa konsepsi, namun kasar dan sementara, dari apa yang ‘dunia berikutnya’ atau ‘dunia lain’ mungkin seperti ……. Dunia Berikutnya, saya pikir, mungkin dipahami sebagai semacam dunia mimpi. Ketika kita tidur, rangsangan sensorik terpotong, atau paling tidak dicegah dari memiliki efek normal mereka pada otak-pusat kita. Tetapi kita masih bisa memiliki pengalaman. Memang benar bahwa persepsi indrawi tidak lagi terjadi, tetapi sesuatu terjadi seperti itu. Dalam tidur, gambar-memproduksi kekuatan kita, yang lebih atau kurang menghambat dalam kehidupan terjaga oleh pengeboman terus-menerus dari rangsangan sensorik, yang dilepaskan dari penghambatan ini. Dan kemudian kita disediakan dengan banyak obyek kesadaran, tentang apa yang kita kerjakan pikiran kita dan ke arah mana kita memiliki keinginan dan emosi. Benda-benda yang kita sadar berperilaku dengan cara yang tampaknya sangat aneh untuk kita ketika kita bangun. Hukum perilaku mereka tidak hukum fisika. Tetapi bagaimanapun aneh perilaku mereka, itu sama sekali tidak membingungkan kita pada saat itu, dan identitas pribadi kita tidak rusak.

Dengan kata lain, pendapat saya adalah bahwa tentang Dunia Berikutnya, jika ada satu, mungkin itu dunia gambaran jiwa. Tidak perlu seperti dunia itu begitu ‘tipis dan tidak substansial’ seperti yang Anda bayangkan. Paradoks kedengarannya, tidak ada khayalan tentang gambaran jiwa. Ini adalah entitas yang sebenarnya, senyata apa pun bisa. Paradoks tampak muncul dari ambiguitas dari kata kerja ‘membayangkan.’ Ini kadang-kadang berarti ‘untuk memiliki gambaran jiwa.’ Tetapi lebih biasanya itu berarti ‘untuk mempunyai proposisi tanpa percaya mereka’; dan sangat sering mereka adalah proposisi palsu, lagi pula kita tidak percaya mereka dalam tindakan mempunyainya. Inilah yang terjadi, misalnya, ketika kita membaca Shakespeare memainkan The Tempest, dan itulah sebabnya kita katakan bahwa Prospero dan Ariel adalah ‘karakter imajiner.’ Gambaran jiwa tidak dalam pengertian ini imajiner sama sekali. Kita benar-benar mengalaminya, dan mereka tidak lebih imajiner dari sensasi. Untuk menghindari paradoks, meskipunpada beberapa penelitian keilmuan, itu akan baik untuk membedakan antara imagining (membayangkan) dan imaging (representasi visual dari suatu benda), dan memiliki dua kata sifat yang berbeda antara ‘imaginary’ dan ‘imagy.’ Dalam terminologi ini, ini adalah imaging, dan tidak imagining, itu yang aku ingin berbicarakan: dan tentang Dunia Berikutnya, karena saya mencoba untuk memahami itu, itu adalah dunia imagy, tetapi bukan karena itu sebuah khayalan.

Memang, bagi mereka yang mengalaminya dunia-gambar akan jadi ‘real’ dunia sekarang ini; dan mungkin jadi seperti itu, bahwa mereka akan mengalami kesulitan yang cukup besar dalam menyadari bahwa mereka sudah mati. Kita, tentu saja, kadang-kadang diceritakan dalam komunikasi medium yang cukup banyak orang merasa sulit untuk menyadari bahwa mereka telah mati; dan ini hanya apa yang harus kita harapkan jika Dunia Berikutnya adalah dunia-gambar ……. Sejauh yang saya lihat, mungkin ada satu set gambar visual berhubungan satu sama lain dalam sudut pandangan, dengan tampak depan dan tampak samping dan tampak belakang dilihat di pas rapi bersama-sama dalam cara bahwa penampilan visual yang biasa lakukan sekarang. Kelompok seperti gambar mungkin berisi gambar ‘tactual’ (pembauan) juga. Demikian pula mungkin berisi gambar pendengaran dan bau gambar. Seperti keluarga gambar yang saling terkait akan membuat objek yang cukup bagus. Ini akan cukup pengganti yang memuaskan untuk benda-benda yang kita rasakan dalam kehidupan sekarang ini. Dan seluruh dunia yang terdiri dari keluarga seperti gambaran jiwa akan membuat dunia yang sangat baik.

Hal ini dimungkinkan, namun, dan memang mungkin, bahwa beberapa dari mereka gambar akan apa yang Francis Galton sebut gambar generik. Sebuah gambar mewakili anjing atau pohon tidak harus berupa replika yang tepat dari beberapa anjing individu atau satu pohon telah dirasakan. Mungkin agak menjadi representasi dari khas anjing atau pohon. Ingatan kita lebih spesifik pada beberapa mata pelajaran dari pada orang lain. Bagaimana spesifik mereka, mungkin tergantung pada tingkat ketetarikan yang kita punya di objek individu atau kejadian pada saat kita merasakan mereka ……. Tinggalkan sumber daya kita sendiri, karena kita harus di Dunia Lain, dengan tanpa apa-apa tetapi kenangan kita bergantung pada, kita mungkin harus mampu membentuk hanya gambar generik dari objek tersebut. Dalam hal ini, dunia-gambar tidak akan menjadi replika yang tepat dari yang satu ini, bahkan bukan dari bagian-bagian yang satu ini yang kita telah benar-benar dirasakan. Sampai batas tertentu itu akan menjadi, sehingga untuk berbicara, gambar umum, daripada reproduksi rinci.

Mari kita sekarang menempatkan pertanyaan kita dengan cara lain, dan bertanya apa jenis pengalaman pikiran manusia tanpa tubuh mungkin dimiliki. Kita kemudian bisa menjawab bahwa itu mungkin menjadi pengalaman yang imaging menggantikan persepsi indrawi; ‘menggantikan’ itu, dalam arti imaging yang akan melakukan banyak fungsi yang sama seperti persepsi indrawi melakukan sekarang, dengan menyediakan kita benda-benda yang kita bisa memiliki pikiran, emosi dan keinginan. Tidak ada alasan mengapa kita tidak harus ‘sebanyak hidup,’ atau pada setiap tingkat merasa sebanyak hidup, dalam dunia-gambar seperti yang kita lakukan sekarang dalam dunia materi sekarang ini, yang kita rasakan melalui panca indera kita dan sistem saraf. Dan sehingga penggunaan kata ‘kelangsungan hidup’ (kehidupan setelah kematian) akan sangat dibenarkan.

Ini akan ditolak, mungkin, bahwa seseorang tidak dapat dikatakan hidup kecuali salah satu memiliki tubuh. Tapi apa yang dimaksud di sini dengan ‘hidup?’ Hal ini tentu dibayangkan (apakah atau tidak itu benar) bahwa pengalaman harus terjadi yang tidak kausal terhubung dengan organisme fisik. Jika mereka melakukannya, kita harus atau seharusnya kita tidak mengatakan bahwa ‘hidup’ itu terjadi? Saya tidak berpikir itu penting banyak apakah kita menjawab Ya atau Tidak Ini adalah murni soal definisi. Jika anda mendefinisikan ‘hidup’ dalam hal proses psiko-kimia yang sangat rumit tertentu, karena beberapa orang akan, maka hidup tentu saja setelah kematian adalah dengan definisi tidak mungkin, karena tidak ada apa-apa lagi untuk hidup. Dalam hal ini, masalah kelangsungan hidup (kehidupan setelah kematian tubuh) yang misnamed (salah istilah). Sebaliknya, itu harus disebut masalah pengalaman setelah kematian. Dan ini sebenarnya masalah yang menjadi subjek perhatian dari semua peneliti. Setelah semua, apa yang orang ingin tahu, ketika mereka bertanya apakah kita bertahan terhadap kematian, hanya apakah pengalaman terjadi setelah kematian, atau apa kemungkinan, jika ada, ada yang mereka lakukan; dan apakah pengalaman itu, jika mereka terjadi, dihubungkan satu sama lain dan dengan orang-orang ante mortem sedemikian rupa bahwa identitas pribadi yang diawetkan. Hal ini tidak proses psiko-kimia yang menarik minat kita, ketika kita mengajukan pertanyaan seperti itu. Tetapi ada arti lain dari kata-kata ‘life’ dan ‘alive’ yang dapat disebut arti psikologis; dan dalam pengertian ini ‘being alive’ hanya berarti ‘memiliki pengalaman macam tertentu.’ Dalam arti psikologis ini, maka kata ‘life’ itu benar-benar dipahami untuk menanyakan apakah ada kehidupan setelah kematian, meskipun hidup dalam arti fisiologi tidak masuk akal ‘ex hypothesi’ berakhir ketika seseorang meninggal. Atau, jika Anda suka, pertanyaannya adalah apakah seseorang bisa merasakan hidup setelah kematian raga, meskipun (dengan hipotesis) seseorang tidak akan hidup pada saat itu. Ini akan cukup untuk memenuhi sebagian besar dari kita jika perasaan hidup terus setelah kematian. Ini tidak akan membuat berharga setengah penny dari perbedaan yang satu tidak akan kemudian hidup dalam arti fisiologis atau biokimia.

Bisa dikatakan, bagaimanapun, bahwa ‘perasaan hidup’ (hidup dalam arti psikologis) tidak bisa hanya disamakan dengan memiliki pengalaman pada umumnya. Merasa hidup, pasti, terdiri dalam memiliki pengalaman semacam khusus, sensasi-tubuh yaitu organik perasaan berbagai macam. Dalam pengalaman kita sekarang, perasaan tubuh ini tidak sebagai aturan secara terpisah dihadiri untuk kecuali mereka yang luar biasa intens atau biasa menyakitkan. Mereka adalah memiliki banyak sekali perbedaan di latar belakang kesadaran. Semua sama, itu akan dikatakan, mereka merupakan perasaan kita menjadi hidup; dan jika mereka tidak hadir (karena tentu mereka harus ketika tubuh sudah mati) perasaan hidup tidak bisa berada di sana.

Saya sama sekali tidak yakin bahwa argumen ini sama kuatnya seperti yang terlihat. Saya pikir kita masih harus merasa hidup-hidup atau cukup-asalkan kita mengalami emosi dan keinginan, bahkan jika tidak ada sensasi organik disertai pengalaman-pengalaman ini, seperti yang mereka lakukan sekarang. Tapi dalam kasus saya salah di sini, saya akan menyarankan bahwa gambar sensasi organik bisa dengan baik memberikan apa yang dibutuhkan. Kita dapat gambar cukup baik untuk diri kita sendiri bagaimana rasanya berada dalam air hangat, bahkan ketika kita tidak benar-benar dalam satu; dan orang yang telah lumpuh dapat gambar bagaimana rasanya mendaki gunung. Selain itu, saya akan bertanya apakah kita tidak merasa hidup ketika kita bermimpi. Tampaknya bagi saya bahwa kita jelas melakukan-atau pada setiap tingkat yang cukup hidup akan pergi.

Ini tidak semua. Dalam dunia-gambar, sebuah dunia mimpi-seperti seperti saya mencoba untuk menjelaskan, tidak ada alasan sama sekali mengapa tidak boleh ada gambar visual menyerupai tubuh mana yang harus di dunia sekarang ini. Dalam kehidupan saat ini (untuk semua orang yang tidak buta) persepsi visual bentuk tubuh sendiri seolah-olah pusat konstan seseorang dunia persepsi; Sangat mungkin bahwa gambar visual tubuh sendiri mungkin melakukan fungsi yang sama di akhirat. Mereka mungkin membentuk pusat terus atau inti dari satu dunia gambaran, sisa lebih atau kurang konstan sementara gambar lain diubah. Jika ini begitu, kita harus memiliki alasan tambahan untuk mengharapkan bahwa baru-baru ini orang-orang mati akan merasa sulit untuk menyadari bahwa mereka sudah mati, yaitu, tanpa tubuh. Untuk semua penampilan mereka akan memiliki tubuh seperti mereka sebelumnya, dan cukup banyak yang sama. Tetapi, tentu saja, mereka mungkin menemukan pada saat itu ini gambar-badan yang tunduk pada hukum sebab-akibat agak aneh. Sebagai contoh, mungkin ditemukan bahwa dalam foto-dunia keinginan kita cenderung ipso facto untuk memenuhi diri mereka dengan cara yang mereka lakukan tidak sekarang. Sebuah keinginan untuk pergi ke Oxford mungkin segera diikuti dengan terjadinya serangkaian jelas dan rinci gambar Oxford seperti; meskipun, pada saat sebelumnya, gambar seseorang telah mirip Piccadilly Circus atau istana Dalai Lama di Tibet. Dalam hal ini, orang akan menyadari bahwa ‘pergi ke suatu tempat’ mentransfer tubuh seseorang dari satu tempat ke tempat lain-adalah proses yang agak berbeda dari apa yang telah di dunia fisik. Berkaca pada pengalaman tersebut, orang mungkin sampai pada kesimpulan bahwa tubuh seseorang tidak setelah semua sama dengan yang tubuh fisik memiliki sebelum kematian. Orang mungkin menyimpulkan bahwa mungkin itu harus menjadi ‘spiritual body’ atau ‘psychical body,’ sangat mirip tubuh tua dalam penampilan, tetapi memiliki sifat kausal yang agak berbeda. Telah dikatakan, tentu saja, bahwa ungkapan-ungkapan seperti ‘tubuh rohani’ atau ‘tubuh psikis’ yang benar-benar dipahami, dan bahwa tidak ada makna empiris dibayangkan bisa diberikan kepada ungkapan tersebut. Tapi saya akan menyarankan bahwa mereka mungkin cara (bukan cara yang menyesatkan mungkin) mengacu pada serangkaian gambar tubuh seperti ……. Saya pikir, saat itu, bahwa tidak ada kesulitan dalam memahami bahwa pengalaman merasa hidup dapat terjadi karena tidak adanya organisme fisik; atau, jika Anda lebih memilih untuk menempatkan begitu, kepribadian tanpa tubuh bisa hidup dalam arti psiko-logis, meskipun menurut definisi itu tidak akan hidup dalam arti physicological atau biokimia.

Selain itu, saya tidak melihat mengapa tanpa tubuh perlu melibatkan menghancurkan identitas pribadi. Hal ini, tentu saja, kadang-kadang mengira bahwa identitas pribadi tergantung pada kelanjutan dari latar belakang sensasi organik-yang ‘banyak tubuh rasakan’ disebutkan sebelumnya. (Ini dapat disebut Analisis Somato – sentris identitas pribadi.) Sistem somato sensori adalah suatu sistem indra yang mendeteksi pengalaman yang disebut sentuhan atau tekanan, suhu (hangat atau dingin), sakit (termasuk gatal dan geli), termasuk juga propriosepsi (sensasi pergerakan otot) serta posisi persendian seperti postur, pergerakan, visera (informasi indra dari dalam tubuh seperti sakit perut), dan ekspresi wajah. Kita harus menyadari, bagaimanapun, bahwa latar belakang ini sensasi organik tidak benar-benar sama dari satu periode waktu yang lain. Sangat paling yang bisa terjadi adalah bahwa sensasi organik yang membentuk latar belakang pengalaman saya sekarang harus persis sama dengan yang latar belakang pengalaman saya semenit yang lalu. Dan sebagai sebenarnya yang hadir tidak seluruhnya persis sama dengan yang sebelumnya. Saya mungkin memiliki sengatan sakit gigi sekarang yang saya tidak punya itu. Saya bahkan mungkin memiliki terguncang keseluruhan kelesuan sekarang yang saya tidak punya waktu sebentar lalu, sehingga seluruh perasaan tubuh, dan bukan hanya satu bagian dari itu, agak berbeda; dan ini tidak akan mengganggu identitas pribadi saya sama sekali. Yang paling yang dibutuhkan adalah hanya bahwa mayoritas (tidak semua) sensasi organik saya harus erat (tidak persis) mirip dengan yang sebelumnya saya miliki. Dan bahkan ini hanya diperlukan jika dua kesempatan yang berdekatan secara rangkaian waktu pribadi saya; sensasi organik yang saya miliki sekarang mungkin baik-sangat tidak seperti yang saya digunakan untuk memiliki ketika saya berumur satu tahun. Saya katakan ‘secara rangkaian waktu pribadi saya.’ Untuk saat bangun tidur setelah delapan jam tidur tanpa mimpi identitas pribadi saya tidak rusak, meskipun dalam waktu fisik atau rangkaian waktu umum telah terjadi jeda panjang antara sensasi organik terakhir saya alami sebelum tidur, dan yang pertama yang saya alami saat saya bangun. Tetapi jika kesamaan, dan tidak literal kesamaan, adalah semua yang diperlukan dari ini ‘terus latar belakang organik’ tampaknya bagi saya bahwa kelangsungan itu bisa sempurna terawat jika ada gambar organik setelah kematian sangat seperti sensasi organik yang terjadi sebelum kematian.

Sebagai soal fakta, seluruh analisis ini ‘somato-sentris’ identitas pribadi tampaknya saya sangat diperdebatkan. Saya harus berpikir bahwa Locke jauh lebih dekat kebenaran ketika ia mengatakan bahwa identitas pribadi tergantung pada memori. Tetapi saya telah mencoba untuk menunjukkan bahwa bahkan jika teori ‘somato-sentris’ identitas pribadi yang benar, tidak ada alasan mengapa identitas pribadi perlu mengalami kematian tubuh, asalkan ada gambar setelah kematian yang cukup mirip dengan sensasi organik salah satu memiliki sebelumnya; dan ini sangat seperti apa yang terjadi ketika salah satu jatuh tertidur dan mulai bermimpi.

Ada, bagaimanapun, argumen lain secara masuk akal dari tanpa tubuh orang, yang beberapa kini filsuf linguistik akan melampirkan berat atau besar badan. Hal ini rapi diungkapkan oleh Mr A.G.N. Flew ketika ia mengatakan, ‘Orang-orang yang Anda temui.’…….. Sebagai soal fakta, namun, kita dapat dengan mudah memahami bahwa ‘pertemuan’ dari masih mungkin antara discarnate experients. Dan oleh karena itu, bahkan jika kita menjadikannya bagian dari definisi ‘seseorang,’ bahwa ia mampu dipenuhi oleh orang lain, masih akan masuk akal untuk berbicara tentang ‘orang bertubuh,’ asalkan kita mengijinkan bahwa telepati mungkin antara mereka. Memang benar bahwa semacam khusus telepati akan diperlukan; jenis yang dalam kehidupan ini menghasilkan penampakan telepati. Ini tidak akan cukup bahwa pikiran A atau emosi harus telepati terpengaruh oleh B. Jika telepati seperti itu cukup lama dan terus menerus, dan terutama jika itu timbal balik, itu memang akan memiliki beberapa karakteristik hubungan sosial; tapi saya tidak berpikir kita harus menyebutnya ‘pertemuan’ pada setiap tingkat dalam Mr Anthony Flew arti kata. Ini akan diperlukan, di samping itu, bahwa A harus menyadari sesuatu yang bisa disebut ‘tubuh’ B, atau harus memiliki pengalaman tidak terlalu berbeda dengan pengalaman melihat orang lain dalam hidup ini. Kondisi tambahan ini akan puas jika A mengalami penampakan telepati dari B. Ini akan diperlukan, lebih lanjut, bahwa penampakan telepati dengan cara yang B ‘mengumumkan dirinya’ (jika salah satu dapat menempatkan begitu) harus dapat dikenal serupa di berbeda kesempatan. Dan jika itu adalah kasus pertemuan beberapa orang lagi yang satu sebelumnya dikenal di dunia ini, penampakan telepati akan harus dikenali mirip dengan tubuh fisik yang orang itu saat dia masih hidup.

Tidak ada alasan mengapa dunia-gambar tidak boleh mengandung sejumlah gambar yang penampakan telepati; dan jika itu terjadi, orang bisa cukup cerdas berbicara tentang ‘pertemuan orang lain’ di dunia seperti itu. Semua pengalaman saya miliki ketika saya bertemu orang lain dalam kehidupan sekarang ini masih bisa terjadi, dengan hanya perbedaan ini, bahwa persepsi akan digantikan oleh gambar. Hal ini juga akan mungkin bagi orang lain untuk ‘bertemu’ dengan saya dengan cara yang sama, jika saya, sebagai agen telepati, bisa menyebabkan dia mengalami penampakan telepati yang cocok, cukup menyerupai tubuh saya digunakan untuk memiliki ketika ia sebelumnya ‘bertemu’ saya dalam kehidupan ini.

Saya sekarang beralih ke masalah lain yang mungkin telah mengganggu beberapa dari Anda. Jika ada sebuah dunia berikutnya, di mana itu? . . . Tentunya dunia berikutnya, jika ada, harus berada di suatu tempat; namun, tampaknya, ada tempat untuk itu untuk menjadi.

Jawaban untuk kesulitan ini adalah mudah jika kita membayangkan Dunia Berikutnya dalam cara saya telah menyarankan, sebagai dunia mimpi-seperti gambar jiwa. Gambaran jiwa, termasuk gambar mimpi, berada dalam ruang mereka sendiri. Mereka memiliki sifat spasial. Gambar visual, misalnya, memiliki ekstensi dan bentuk, dan mereka memiliki hubungan spasial satu sama lain. Tapi mereka tidak memiliki hubungan spasial untuk benda-benda di dunia fisik. Jika saya bermimpi harimau, saya gambar harimau memiliki ekstensi dan bentuk. Garis-garis gelap memiliki hubungan spasial untuk bagian kuning, dan satu sama lain; hidung memiliki hubungan spasial ke ekor. Sekali lagi, gambar harimau secara keseluruhan mungkin memiliki hubungan spasial untuk gambar lain dalam mimpiku; misalnya untuk gambar menyerupai pohon palem. Tetapi misalkan kita harus bertanya seberapa jauh itu dari kaki tempat tidur saya, apakah itu tiga inci panjang, atau lebih, atau lebih pendek; itu tidak jelas bahwa pertanyaan-pertanyaan ini yang tidak masuk akal? Kita tidak bisa menjawabnya, bukan karena kita tidak memiliki informasi yang diperlukan atau merasa tidak praktis untuk membuat pengukuran yang diperlukan, tetapi karena pertanyaan itu sendiri tidak memiliki arti. Dalam waktu dunia fisik gambar-gambar ini adalah tempat di sama sekali. Namun dalam kaitannya dengan gambar lain saya, masing-masing adalah suatu tempat. Masing-masing diperpanjang, dan bagian-bagiannya berada dalam hubungan spasial satu sama lain. Tidak ada alasan apriori mengapa semua entitas diperpanjang harus dalam ruang fisik. Hal ini mirip dengan teori psikologi Gestalt, dimana ada penyesuai antara kejadian-kejadian kortikal (pengetahuan yang mengkaitkan perilaku manusia dengan susunan saraf di otak) dengan objek-objek di tengah lingkungan, dimana keduanya terkait satu dengan yang lain, seperti suatu peta jalan yang erat hubungan dengan jalan rayanya. Peta tersebut memang mengubah pemandangan-pemandangan, sedangkan tikungan-tikungan dan belokan-belokan diratakan untuk penyederhanaan, namun relasi-relasi esensial atau dasar tetap tinggal/ada.

Jika sekarang kita menerapkan pertimbangan-pertimbangan untuk Dunia Berikutnya, karena saya memahami itu, kita melihat bahwa pertanyaan ‘mana?’ hanya tidak muncul. Sebuah dunia-gambar akan memiliki ruang sendiri. Kita tidak bisa menemukannya di mana pun di ruang dari dunia fisik, tetapi ini tidak akan sedikit pun mencegah dari yang dunia spasial semua sama. Jika Anda suka, itu akan menjadi sendiri ‘di mana’ . . . Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang ‘passing’ dari dunia ini ke depan, bagian ini tidak boleh dianggap sebagai apa pun gerakan dalam ruang. Ini harus lebih dianggap sebagai perubahan kesadaran, analog dengan perubahan yang terjadi ketika kita ‘pass’ bangun pengalaman untuk bermimpi. Ini akan menjadi perubahan dari jenis persepsi kesadaran untuk jenis lain dari kesadaran di mana persepsi berhenti dan pengambaran menggantikannya, tetapi tidak seperti perubahan dari bangun kesadaran untuk bermimpi untuk menjadi tidak dapat diubah ……. Saya sekarang beralih ke kesulitan lain. Ini mungkin merasa bahwa dunia-gambar entah bagaimana penipuan dan palsu, bukan dunia nyata sama sekali. Saya telah mengatakan bahwa ini akan menjadi semacam dunia mimpi. Sekarang ketika seseorang memiliki mimpi dalam hidup ini, pasti orang menyadari dalam mimpi bukan hal yang nyata. Tidak diragukan lagi pemimpi benar-benar memiliki berbagai gambar jiwa. Gambar-gambar ini tidak benar-benar terjadi. Tetapi ini tidak semua yang terjadi. Sebagai hasil dari memiliki gambar-gambar ini, si pemimpi percaya, atau menerima begitu saja, bahwa berbagai obyek material yang ada dan berbagai acara fisik- terjadi; dan keyakinan ini keliru. Misalnya, ia percaya bahwa ada dinding di depannya dan bahwa dengan upaya hanya kehendak ia berhasil terbang di atas atasnya. Tapi dinding tidak benar-benar ada, dan dia tidak benar-benar terbang di atas puncak itu. Dia dalam keadaan khayalan. Karena gambar yang dia benar-benar memiliki, tampaknya ada dia menjadi berbagai objek dan peristiwa yang tidak benar-benar ada sama sekali. Demikian pula, Anda mungkin berpendapat, mungkin tampak seperti pikiran bertubuh (jika memang ada seperti itu) bahwa ada dunia di mana mereka tinggal, dan dunia tidak seperti yang satu ini. Jika mereka memiliki gambaran jiwa dari jenis yang tepat, hal itu mungkin tampak bahkan kepada mereka bahwa mereka memiliki tubuh tidak berbeda dengan yang mereka miliki dalam hidup ini. Tetapi tentunya mereka akan keliru ……. Saya akan menyarankan, bagaimanapun, bahwa argumen ini tentang ‘delusiveness’ atau ‘tak nyata’ dari suatu dunia-gambar didasarkan pada kebingungan.

Satu mungkin meragukan apakah ada makna yang jelas dalam menggunakan ‘nyata’ dan ‘tidak nyata’ tout court, dalam cara yang sangat umum dan tidak ditentukan ini. Satu benar mungkin berkata, ‘ini adalah nyata perak, dan yang ini tidak,’ ‘ini adalah mutiara nyata dan yang tidak,’ atau lagi ‘ini adalah kolam nyata air, dan itu hanya fatamorgana.’ Intinya di sini adalah bahwa sesuatu X keliru diyakini menjadi sesuatu yang lain Y, karena itu tidak menyerupai Y dalam beberapa hal. Masuk akal sangat baik, kemudian, untuk mengatakan bahwa X tidak benar-benar Y. Ini bagian dari kuningan berlapis perak tidak nyata, memang benar. Hanya terlihat seperti perak. Tetapi untuk semua itu, tidak bisa disebut ‘nyata’ dalam arti tidak memenuhi syarat, dalam arti tidak ada sama sekali. Bahkan fatamorgana adalah sesuatu, meskipun itu bukan genangan air yang Anda dapat ambil. Ini adalah satu rangkaian yang sangat baik dari penampilan visual, meskipun tidak berhubungan dengan penampilan lain dengan cara yang Anda pikir itu; misalnya, tidak memiliki hubungan untuk pembauan, atau penampilan visual yang dari tempat lain, yang Anda harapkan untuk. memiliki. Anda benar dapat mengatakan bahwa fatamorgana bukanlah kolam nyata air, atau bahkan bahwa itu bukan benda fisik yang nyata, dan bahwa siapa pun yang berpikir itu adalah harus dalam keadaan khayalan. Tetapi tidak ada arti yang jelas mengatakan bahwa itu hanya tout court ‘nyata,’ tanpa spesifikasi atau penjelasan lebih lanjut. Singkatnya, ketika kata ‘tidak nyata’ diterapkan untuk sesuatu, salah satu sarana yang berbeda dari sesuatu yang lain, yang mana mungkin keliru diidentifikasi, apa yang sesuatu yang lain yang mungkin tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi dapat dikumpulkan dari konteks.

Apa, kemudian, bisa orang maksud dengan mengatakan bahwa dunia berikutnya seperti yang saya jelaskan akan menjadi ‘tidak nyata?’ Jika mereka mengatakan apa-apa dimengerti, mereka harus berarti bahwa itu adalah berbeda dari sesuatu yang lain, sesuatu yang lain yang itu tidak menyerupai dalam beberapa hal, dan karena itu mungkin bingung dengan. Dan apa itu sesuatu yang lain? Ini adalah dunia fisik ini hadir di mana kita hidup sekarang. Dunia-gambar, maka, hanya ‘tidak nyata ‘dalam arti bahwa itu tidak benar-benar fisik, meskipun mungkin keliru dianggap fisik oleh beberapa orang yang mengalaminya. Tetapi ini hanya setara dengan mengatakan bahwa dunia saya menjelaskan akan menjadi dunia lain, selain dunia fisik ini hadir, yang adalah hanya apa seharusnya; selain dunia fisik sekarang ini, dan belum cukup seperti itu menjadi mungkin bingung dengan hal itu, karena gambar dilakukan menyerupai persepsi. Dan apa yang akan keserbalainan ini terdiri dalam? Pertama, dalam kenyataan bahwa itu adalah dalam ruang yang selain ruang fisik; kedua, dan masih lebih penting, dalam kenyataan bahwa hukum sebab akibat dari suatu dunia-gambar akan berbeda dari hukum fisika. Dan ini juga landasan kita untuk mengatakan bahwa peristiwa yang kita alami dalam mimpi adalah ‘nyata,’ yaitu, tidak benar-benar fisik, meskipun keliru diyakini oleh si pemimpi untuk menjadi begitu. Mereka dalam beberapa hal sangat mirip peristiwa fisik, dan itulah sebabnya kesalahan mungkin. Tapi hukum sebab akibat dari terjadinya mereka sangat berbeda, karena kita menyadari ketika kita bangun; dan hanya kadang-kadang kita mengenalinya bahkan ketika kita masih tertidur …….

Mari kita sekarang coba untuk mengeksplorasi konsepsi dunia yang gambaran jiwa sedikit lebih lengkap. Apakah itu tidak menjadi dunia ‘subjektif?’ Dan pasti akan ada banyak dunia berikutnya yang berbeda, bukan hanya satu; dan masing-masing akan pribadi. Memang, akan ada tidak seperti banyak dunia berikutnya karena ada pikiran bertubuh, dan masing-masing dari mereka sepenuhnya pribadi ke pikiran yang mengalaminya? Singkatnya, mungkin tampak bahwa kita masing-masing, ketika mati, akan memiliki dunia mimpi sendiri, dan tidak akan ada yang umum atau publik Dunia berikutnya sama sekali.

‘Subyektif,’ mungkin, agak kata yang licin. Tentu saja, gambar yang saya dunia akan menjadi subjektif dalam arti menjadi tergantung pada pikiran, tergantung keberadaannya pada proses jiwa atau sejenisnya; gambar, setelah semua, adalah entitas jiwa. Tetapi saya tidak berpikir bahwa dunia seperti itu perlu benar-benar pribadi, jika telepati terjadi di kehidupan berikutnya ……. Masuk akal untuk menganggap bahwa dalam telepati keadaan tanpa tubuh akan terjadi lebih sering daripada yang dilakukannya sekarang. Tampaknya mungkin bahwa dalam kehidupan sekarang ini kekuatan telepati kita terus-menerus dihambat oleh kebutuhan kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik kita. Bahkan nampaknya bahwa banyak telepati ‘tayangan’ yang kita terima di tingkat bawah sadar yang dikucilkan dari kesadaran oleh semacam sensor biologis-termotivasi. Setelah tekanan kebutuhan biologis dihapus, kita harapkan telepati yang akan terjadi terus-menerus, dan memanifestasikan dirinya dalam kesadaran dengan memodifikasi dan menambahkan gambar yang satu pengalaman. (Bahkan dalam kehidupan ini, setelah semua, beberapa mimpi adalah telepati).

Jika ini benar, dunia-gambar seperti saya uraikan tidak akan menjadi produk dari satu pikiran tunggal saja, atau akan itu murni pribadi. Ini akan menjadi sendi-produk dari kelompok telepati-berinteraksi pikiran dan publik untuk mereka semua. Namun demikian, salah satu tidak akan mengharapkan untuk memiliki publisitas terbatas. Sangat mungkin bahwa masih akan ada banyak dunia-dunia berikutnya, yang berbeda untuk setiap kelompok yang berpikiran seperti kepribadian. Saya mengakui bahwa saya tidak yakin apa yang mungkin dimaksud dengan ‘like-minded’ dan ‘unlike-minded’ dalam hubungan ini. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa dua kepribadian yang berpikiran jika ingatan mereka atau karakter mereka cukup mirip. Mungkin Nero dan Marcus Aurelius tidak memiliki dunia kesamaan, namun Socrates dan Marcus Aurelius ada.

Sejauh ini, kita memiliki gambaran tentang banyak ‘semi-publik’ dunia berikutnya, jika seseorang dapat menempatkan begitu; masing-masing terdiri dari gambaran jiwa, namun tidak sepenuhnya pribadi untuk semua itu, tetapi publik untuk kelompok terbatas telepati-berinteraksi pikiran. Atau, jika Anda suka, setelah kematian semua orang memang memiliki mimpi sendiri, namun masih ada beberapa tumpang tindih antara mimpi satu orang dan lain, karena telepati.

Saya telah mengatakan bahwa dunia seperti itu akan tergantung pada pikiran, meskipun tergantung pada sekelompok pikiran daripada satu pikiran. Dengan cara apakah itu tergantung pada pikiran? Agaknya dengan cara yang sama seperti mimpi sekarang. Ini akan tergantung pada kenangan dan keinginan dari orang-orang yang mengalaminya. Ingatan mereka dan keinginan mereka akan menentukan apa jenis gambar yang mereka miliki. Jika saya bisa meletakkannya begitu, ‘barang’ atau ‘materi’ dari dunia seperti itu akan datang pada akhir dari ingatan seseorang, dan ‘bentuk’ dari keinginan seseorang. Untuk menggunakan analogi lain, memori akan memberikan pigmen, dan keinginan akan melukis gambar. Orang mungkin mengharapkan, saya pikir, yang menginginkan yang telah puas dalam kehidupan seseorang duniawi akan memainkan bagian khusus penting dalam proses. Itu mungkin tampak prospek menyenangkan. Tetapi ada yang lain yang kurang menyenangkan. Keinginan yang telah tertahan dalam kehidupan duniawi seseorang, karena terlalu menyakitkan atau terlalu memalukan untuk mengakui bahwa salah satu memiliki mereka, mungkin juga memainkan peran, dan mungkin merupakan bagian penting, dalam menentukan gambar apa yang akan di akhirat. Dan hal yang sama mungkin benar kenangan direpresi. Ini mungkin disarankan bahwa apa yang Freud (dalam satu tahap pemikirannya) disebut ‘the censor’ gaya atau penghalang atau mekanisme yang membuat beberapa keinginan dan kenangan kita dari kesadaran, atau hanya memungkinkan mereka di saat mereka menyamarkan diri mereka secara simbolis dan terdistorsi bentuk-hanya beroperasi dalam kehidupan sekarang ini, bukan di akhirat. Namun kita membayangkan ‘the censor,’ itu tampaknya menjadi perangkat untuk memungkinkan kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kita. Dan ketika kita tidak lagi memiliki lingkungan, orang akan berharap bahwa penghalang akan turun. Hal ini juga berhubungan dengan “intention” adalah kondisi mental yang merupakan komitmen untuk melakukan suatu tindakan di masa depan. Intention melibatkan aktivitas mental seperti perencanaan dan pemikiran. Psikologi secara umum menjelaskan perilaku manusia atas dasar keadaan mental, termasuk keyakinan, keinginan, dan niat. Mekanisme mental, termasuk niat, menjelaskan perilaku dalam individu dipandang sebagai aktor yang memiliki keinginan dan yang berusaha untuk mencapai tujuan yang diarahkan oleh keyakinan. Dengan demikian, tindakan yang disengaja adalah fungsi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Kita sekarang dapat melihat bahwa dunia setelah kematian gambaran jiwa juga dapat cukup cukup dijelaskan dalam terminologi para pemikir Hindu sebagai ‘dunia keinginan’ (Kama Loka). Memang, ini hanya apa yang harus kita harapkan jika kita menganggap bahwa mimpi, dalam kehidupan sekarang ini, adalah petunjuk terbaik yang tersedia untuk apa kehidupan berikutnya mungkin seperti. Dunia seperti itu juga bisa digambarkan sebagai ‘dunia kenangan’; karena pengambaranan, pada akhirnya, adalah fungsi memori, salah satu cara di mana memori-disposisi kita menampakkan diri. Tapi deskripsi ini akan kurang tepat, meskipun benar sejauh ini berjalan. Untuk menggunakan bahasa yang agak tidak memadai sama seperti sebelumnya, ‘bahan’ dari mana dunia-gambar terdiri harus datang dari kenangan pikiran atau kelompok pikiran yang dunianya itu. “Mental state”, tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang akan sangat berpengaruh juga terhadap terhadap “dunia berikiutnya” ini. Tetapi itu akan menjadi keinginan mereka (termasuk yang ditekan dalam kehidupan duniawi) yang menentukan cara di mana kenangan ini digunakan, jenis yang tepat dari mimpi yang dibangun dari mereka atau atas dasar mereka.

Ini akan, tentu saja, akan keberatan bahwa kenangan tidak bisa eksis tanpa adanya otak fisik, atau belum keinginan, atau gambar baik. Tetapi proposisi ini, namun masuk akal, setelah

semua hanya sebuah hipotesis empiris, bukan suatu kebenaran yang diperlukan. Tentu saja ada bukti empiris yang mendukung itu. Tetapi ada juga bukti empiris terhadap hal itu. Secara garis besar bisa dikatakan, mungkin, bahwa bukti ‘normal’ cenderung untuk mendukung teori ini Materialistis atau Epiphenomenalist tentang memori, gambar dan keinginan, sedangkan bukti ‘supernormal’ secara keseluruhan cenderung melemah Materialis atau Epiphenomenalist teori kepribadian manusia (yang hipotesis ini tentang karakter otak tergantung dari memori, gambar, dan keinginan adalah suatu bagian). Selain itu, bukti yang secara langsung mendukung hipotesis kelangsungan hidup (dan ada cukup banyak bukti yang tidak, asalkan kita siap untuk mengakui bahwa hipotesis kelangsungan hidup adalah dimengerti sama sekali) bukti pro tanto terhadap konsepsi Materialistis kepribadian manusia.

Dalam kuliah ini, saya tentu saja tidak mencoba untuk berdebat mendukung hipotesis kelangsungan hidup. Saya hanya peduli dengan tugas yang lebih sederhana mencoba untuk membuatnya dimengerti. Yang saya ingin mempertahankan, kemudian, adalah bahwa tidak ada kontradiksi-diri atau logis masuk akal dalam hipotesis bahwa memori, keinginan dan gambar bisa eksis tanpa adanya otak fisik. Hipotesis mungkin, tentu saja, palsu. Maksud saya hanya bahwa hal itu tidak masuk akal; atau, jika Anda suka, bahwa pada setiap tingkat dimengerti, entah benar atau tidak.

Sumber Referensi:

________, 1996, Philosophy of Religion: Selected Readings, Oxford University Press

 

Riwayat & Pemikiran Charles Darwin

Charles Robert Darwin, lahir di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, 12 Desember 1809 di rumah keluarganya, The Mount House dan meninggal di Downe, Kent, Inggris, 19 April 1882 pada umur 72 tahun. Darwin adalah seorang naturalis Inggris yang teori revolusionernya meletakkan landasan bagi teori evolusi modern dan prinsip garis keturunan yang sama dengan mengajukan seleksi alam sebagai mekanismenya. Teori ini kini dianggap sebagai komponen integral dari biologi (ilmu hayat) dan tentu saja teorinya ini telah merubah padangan banyak orang tentang dunia alam. Darwin adalah anak kelima dari enam bersaudara dari seorang dokter yang kaya, Robert Darwin dan Susannah Wedgwood. Kakeknya, Erasmus Darwin dari pihak ayah dan Josiah Wedgwood dari pihak ibunya. Keduanya berasal dari keluarga Inggris terkemuka, keluarga Darwin — Wedgwood yang mendukung Gereja Unitarian (menolak Trinitas). Erasmus Darwin, seorang pemikir bebas dan penyair, juga penulis dari buku Zoonomia atau The Laws of Organic Life (1794-1796). Ibu Darwin meninggal ketika dia berusia delapan tahun, dan ia dirawat oleh tiga saudara tuanya. Pada tahun berikutnya ia bersekolah di Sekolah Shrewsbury yang tidak begitu jauh, ia tinggal di asrama sekolah itu. Berkat kekayaan orang tuanya, Darwin menikmati kenyamanan dan mempunyai akses untuk mengenyam fasilitas-fasilitas pendidikan yang bagus. Ayahnya kuatir akan masa depan Darwin, karena ia hanya bersenang-senang dengan berburu, main-main dengan anjing, dan menangkap tikus. Ayahnya khawatir bahwa Darwin akan membawa malu keluarga, meskipun Darwin sudah sejak dini tertarik biologi, untuk menyenangkan ayahnya, ia mengambil studi kedokteran dan kemudian belajar teologi.

Pada tahun 1831, Darwin bergabung dengan ekspedisi ilmiah di kapal HMS Beagle selama lima tahun. Saat itu, sebagian besar orang Eropa percaya bahwa dunia diciptakan oleh Allah dalam tujuh hari seperti yang dijelaskan dalam Alkitab. Pada pelayarannya, Darwin membaca buku Charles Lyell, Principles of Geology yang menyatakan bahwa fosil yang ditemukan di bebatuan sebenarnya bukti hewan yang telah hidup ribuan atau jutaan tahun yang lalu dan argumen ini diperkuat oleh pikiran Darwin sendiri karena mengamati beragam kehidupan hewan dan fitur geologi selama perjalanannya. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1836, Darwin mencoba untuk memecahkan teka-teki dari pengamatan ini dan teka-teki tentang bagaimana spesies berevolusi. Darwin dipengaruhi oleh ide-ide dari Malthus, ia mengusulkan teori evolusi yang terjadi oleh proses seleksi alam. Hewan-hewan atau tanaman yang paling cocok untuk lingkungan mereka lebih mungkin untuk bertahan hidup dan bereproduksi, menyampaikan karakteristik yang membantu mereka bertahan hidup dengan anak-anak mereka. Secara bertahap spesies berubah dari waktu ke waktu. Darwin bekerja pada teori itu selama 20 tahun.

Darwin sadar sepenuhnya bahwa orang-orang lain yang mengemukakan gagasan-gagasan yang dianggap sesat seperti itu mengalami hukuman yang hebat, ia hanya menyampaikan penelitiannya ini kepada teman-teman terdekatnya. Pada tahun 1858 ada informasi bahwa Alfred Russel Wallace juga telah mengembangkan ide-ide yang sama, dua orang tersebut membuat pengumuman bersama tentang penemuan. Pada tahun 1859, Darwin menerbitkan “On the Origin of Species by Means of Natural Selection” yang kemudian lebih dikenal sebagai “The Origin of Spesies”. Buku ini sangat kontroversial, karena perpanjangan logis dari teori Darwin adalah bahwa homo sapiens hanya bentuk lain dari hewan, dimana orang-orang sangat mungkin berkembang dari kera. Hal ini menghancurkan pemahaman yang berlaku pada bagaimana dunia diciptakan sesuai isi Alkitab. Darwin diserang keras, khususnya oleh gereja, namun ide-idenya segera mendapatkan pengakuan dan telah menjadi pemahaman baru. Di periode yang sulit ini, Darwin didampingi oleh salah satu kawan setianya, Thomas Huxley yang dijuluki “Darwin Bulldog”. Secara jitu dan tajam, Huxley membela teori Darwin dari serangan-serangan, dimana salah satu episode yang terkenal ialah debat antara Huxley dengan Bishop Samuel Wilberforce. Darwin meninggal pada tanggal 19 April 1882 dan sebagai tanda pengakuan terhadap kehebatan Darwin, ia dikebumikan di Westminster Abbey, bersama dengan William Herschel dan Isaac Newton.

Charles Darwin melakukan penelitian tentang tumbuhan dan hewan untuk mempelajari tentang proses evolusi. Pengamatan yang ia lakukan di kepulauan Galapagos membuatnya menyadari konsep dasar evolusi. Ia menyadari bahwa burung Finch yang mendiami pulau-pulau berbeda memiliki sedikit perbedaan. Dalam pengamatannya, Darwin mengidentifikasi beragam spesies burung Finch yang memiliki perbedaan pada bentuk dan ukuran paruh mereka. Perbedaan paruh itu berhubungan dengan makanan yang tersedia di wilayah yang didiami oleh tiap burung tersebut. Bertentangan dengan ini, ia mengamati hanya ada satu spesies burung Finch di Amerika Selatan. Darwin berasumsi bahwa spesies-spesies di kepulauan Galapagos mungkin telah berevolusi dari spesies yang ditemukan di Amerika Selatan. Menurut Darwin, spesies asli burung Finch datang ke kepulauan Galapagos dan kemudian tersebar pada kondisi lingkungan yang bervariasi. Seiring berjalannya waktu, anatomi burung-burung tersebut secara alami termodifikasi sebagai adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang ada. Dalam istilah yang lebih sederhana, mereka termodifikasi agar dapat lebih mudah mengkonsumsi makanan, sehingga meningkatkan kemungkinan bertahan hidup untuk reproduksi. Misalnya, burung Finch yang hidup di tanah memiliki paruh besar untuk memecahkan biji-bijian. Burung yang berhasil bertahan hidup terus hidup dan bereproduksi, sedangkan yang tidak berhasil beradaptasi meninggal dan punah. Modifikasi pada paruh burung Finch ini mungkin berkembang setelah banyak generasi karena burung-burung ini secara anatomis berbeda satu sama lain, mereka terisolasi secara reproduktif, sehingga menimbulkan spesies berbeda.

Darwin mencoba mengaplikasikan teori ini pada semua makhluk hidup, Darwin menyatakan bahwa individu-individu yang berasal dari spesies yang sama akan menunjukkan adanya variasi diantara mereka. Kemudian individu-individu yang memiliki sifat menguntungkan akan terus hidup dan berkembang biak. Akhirnya setelah banyak generasi, sifat-sifat menguntungkan menjadi lebih umum, sehingga populasi berkembang terdiri dari sifat yang menguntungkan saja. Seleksi alam dapat dijelaskan dengan cara yang sama dengan prosedur pembiakan yang dilakukan oleh peternak untuk hewan-hewan domestik. Sapi-sapi produktif terbaik biasa digunakan untuk pembiakan. Proses ini secara bertahap akan membuang sifat yang tidak diinginkan. Demikian pula seleksi alam, secara bertahap menghilangkan spesies yang tidak dapat beradaptasi baik, dan mendukung spesies yang dapat beradaptasi dengan baik.

Teori evolusi Darwin berdasarkan “fakta” dan “kesimpulan” yang diringkas oleh Ernst Mayr adalah sebagai berikut: (1). Semua spesies memiliki potensi fertilitas sehingga jumlah populasinya akan meningkat jika semua individu yang dilahirkan berhasil bereproduksi dengan baik (fakta), (2). Kecuali fluktuasi musiman, jumlah populasi secara umum akan stabil (fakta), (3). Sumber daya seperti makanan terbatas dan relatif stabil dari waktu ke waktu (fakta), (4). Sebuah perjuangan untuk bertahan hidup kemudian terjadi (kesimpulan), (5). Individu dalam populasi bervariasi secara signifikan dari satu sama lain (fakta), (6). Banyak variasi ini diwariskan (fakta), (7). Kelangsungan hidup dalam perjuangan untuk mempertahankan hidup tidak terjadi secara acak, tetapi bergantung sebagian pada susunan sifat yang terwarisi dari individu yang bertahan hidup. Individu yang mewarisi sifat-sifat baik yang membuat individu-individu tersebut cocok dengan lingkungannya dan besar kemungkinan akan menghasilkan lebih banyak keturunan dibandingkan dengan individu yang kurang cocok sifatnya terhadap lingkungannya. Ini disebut sebagai proses seleksi alam (kesimpulan), (8). Kemampuan individu untuk bertahan hidup dan bereproduksi yang tidak sama ini akan mengakibatkan suatu perubahan secara bertahap dalam suatu populasi, dan sifat-sifat menguntungkan akan berakumulasi sepanjang generasi yang kemudian membentuk spesies baru (kesimpulan).

Riwayat & Pemikiran Sigmund Freud

Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, adalah seorang ahli ilmu faal(fisiologi), dokter, psikolog dan pemikir yang berpengaruh di awal abad kedua puluh. Freud menguraikan teorinya bahwa pikiran adalah energi sistem yang kompleks, penyelidikan struktural yang merupakan wilayah bahasan yang tepat bagi psikologi. Freud membahas tentang konsep alam bawah sadar, seksualitas anak, tahap-tahap perkembangan anak, dan represi. Pengobatan inovatif dari Freud mengenai tindakan manusia dan hubungannya dengan mimpi telah memiliki implikasi besar untuk berbagai bidang termasuk psikologi, antropologi, semiotika, dan kreativitas seni dan apresiasi.

Sigmund Freud lahir di Frieberg, Moravia pada tahun 1856, tetapi ketika ia berusia empat tahun keluarganya pindah ke Wina tempat dimana dia tinggal dan bekerja sampai tahun-tahun terakhir hidupnya. Pada tahun 1938 Nazi menyerbu Austria, Freud yang seorang Yahudi diizinkan berangkat ke Inggris. Freud selalu menganggap dirinya seorang ilmuwan dan untuk tujuan ini ia mendaftar sekolah kedokteran di University of Vienna pada tahun 1873. Freud berkonsentrasi pada awalnya di bidang biologi, melakukan penelitian dalam fisiologi selama enam tahun di bawah ilmuwan besar Jerman, Ernst Brücke, yang adalah direktur Laboratorium fisiologi di universitas tersebut, dan setelah itu mengkhususkan diri dalam neurologi. Ia menerima gelar medisnya pada tahun 1881, dan telah bertunangan dan akan menikah pada tahun 1882, ia agak enggan mengambil lebih banyak pekerjaan yang aman dan menguntungkan secara finansial sebagai dokter di Rumah Sakit Umum Wina. Freud membuka praktik swasta dalam pengobatan gangguan psikologis, yang memberinya banyak bahan untuk penelitiannya.

Tahun 1885-1886, Freud menghabiskan sebagian besar waktunya di Paris, di mana ia sangat terkesan dengan karya ahli saraf Perancis yaitu Jean Charcot yang pada waktu itu menggunakan hipnotis untuk mengobati histeria dan kondisi mental yang abnormal lainnya. Ketika ia kembali ke Wina, Freud bereksperimen dengan hipnosis tetapi menemukan bahwa efek menguntungkan tidak berlangsung. Freud merumuskan dan mengembangkan gagasan bahwa banyak neurosis (fobia, kelumpuhan histeris dan nyeri, beberapa bentuk paranoia, dan sebagainya) memiliki asal-usul mereka dalam pengalaman sangat traumatis yang telah terjadi di masa lalu pasien tetapi yang sekarang tersembunyi dari kesadaran. Perawatan adalah untuk memungkinkan pasien untuk mengingat pengalaman kesadaran, untuk menghadapinya dengan cara yang mendalam baik secara intelektual dan emosional, dan dengan demikian menghapus penyebab psikologis yang mendasari gejala neurotik.

Joseph Breuer yang merupakan mentor sekaligus rekan sepenelitian Freud tidak dengan apa yang ia dianggap sebagai penekanan yang berlebihan yang ditempatkan Freud pada asal-usul seksual dan isi neurosis, kemudian mereka berdua berpisah. Freud terus bekerja sendiri untuk mengembangkan dan memperbaiki teori dan praktek psikoanalisis. Tahun 1900, setelah periode berlarut-larut dari analisis diri, ia menerbitkan “The Interpretation of Dreams”, yang umumnya dianggap sebagai karya terbesarnya. . Tahun 1901, diikuti oleh “The Psychopathology of Everyday Life” dan tahun 1905 oleh “Three Essays on the Theory of Sexuality”. Teori psikoanalitik Freud pada awalnya tidak diterima dengan baik, ketika itu banyak tersinggung oleh penekanan pada seksualitas oleh Freud.

Tahun 1908, ketika pertama kali digelar “International Psychoanalytical Congress” yang diadakan di Salzburg, teori Freud penting mulai diakui umum. Hal ini sangat difasilitasi pada tahun 1909, ketika Freud diundang untuk memberikan kuliah di Amerika Serikat, yang kemudian membentuk dasar dari bukunya pada tahun 1916 berjudul “Five Lectures on Psycho Analysis”. Reputasi Freud dan ketenarannya tumbuh sangat subur, dan ia terus menulis sampai kematiannya, memproduksi dalam lebih dari dua puluh jilid karya teoritis dan studi klinis. Fredu tidak menolak untuk secara kritis merevisi pandangannya, atau membuat perubahan mendasar untuk prinsip-prinsip paling dasar ketika ia menganggap bahwa bukti ilmiah menuntutnya dan ini yang paling jelas dibuktikan dengan perubahan menjadi “tripartite” (id, ego, dan super ego), sebelumnya pada tahun 1923, Freud menulis buku yang “The Ego and Id”. Setelah hidup dengan semangat yang luar biasa dan produktivitas kreatif, Freud meninggal karena kanker di Inggris pada tahun 1939.

Freud merupakan dianggap sebagai pemikir dengan ide aslinya, namun meskipun demikan Freud juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor beragam yang tumpang tindih dan saling berhubungan satu sama lain untuk membentuk perkembangan pemikirannya. Sebagaimana ditunjukkan di atas, baik Jean Charcot dan Joseph Breuer memiliki dampak langsung. Beberapa faktor lain yang juga berpengaruh pada pemikiran Freud berasal dari kehidupan masa kecilnya, yaitu: (1). Ayahnya memiliki 2 orang anak dari perkawinan terdahulu dan Freud sering bermain dengan keponakannya yang seusia dengannya, (2). Ibunya selalu memujanya dan yakin bahwa anaknya akan menjadi orang yang besar (3). Ayahnya bukan orang yang berhasil, banyak menimbulkan kesukaran dan trauma, (4). Keluarganya adalah keturuanan Yahudi, hidup dalam kebudayaan yang anti semitik (kebudayaan yang membenci orang Yahudi), (5). Seluruh keluarga besarnya menghendaki ia berhasil dalam hidupnya, serta mendorong dengan penuh ambisi.

Tahun 1887, Freud mulai berteman dengan Wilhelm Fliess, seorang ahli THT dari Berlin. Freud menggambarkan Fliess sebagai sahabat karib dan juga seorang musuh bebuyutan yang selalu sangat diperlukan untuk kehidupan emosionalnya. Fliess mengomentari dan mengkritik karya-karya Freud, Freud juga terpengaruh oleh spekulasi dari Fliess tentang seksualitas anak kecil. Teori Freud memiliki stuktur kepribadian yang terdiri dari 3 aspek: id (aspek biologis), ego (aspek psikologis), dan super ego (aspek sosiologis). Id ini adalah aspek yang mendasarkan munculnya kedua aspkek lainnya, dimana id berpegang pada prinsip “kenikmatan”, dimana mencari keenakan dan menghindarkan diri dari ketidak-enakan, untuk mencari ini, id mempunyai 2 cara, yaitu: (1). Refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, berkedip, dan sebagainya, (2). Proses primer, seperti kalau orang lapar lalu membayangkan makanan.

Ego timbul dari kebutuhan organisme untuk dapat berhubungan dengan dunia luar secara realistis. Tujuan ego, yaitu mendapatkan keenakan dan menghindarkan diri dari ketidak-enakan, tetapi dalam bentuk dan cara yang sesuai dengan kondisi-kondisi dunia riil, sesuai kenyataan, baik itu kenyataan benda-benda, maupun kenyataan nilai-nilai social. Super ego merupakan wakil nilai-nilai tradisional, serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang diajarkan dalam berbagai perintah dan larangan. Super ego ini lebih suatu yang “ideal” dibanding sesuatu yang “riil”, lebih merupakan “kesempurnaan” dibanding “kenikmatan”.

Freud sangat terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivism abad ke-19 dan menganggap organisme manusia sebagai suatu system energy kompleks yang memperoleh energinya dari makanan yang dimakan dan menggunakannya untuk bermacam-macam hal, seperti sirkulasi pernafasan, gerakan otot, mengamati, berpikir dan mengingat. Freud tidak melihat alas an untuk menganggap energy yang digunakan untuk bernafas atau pencernaan adalah berbeda dari energy yang digunakan untuk mengingat dan berpikir. Menurut doktrin penyimpanan energy yang dianut oleh kaum positivistic, energy dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi tidak dapat hilang dari seluruh system kosmis, berdasarkan pemikiran ini, maka energy fisiologis dapat diubah menjadi energy psikis dan demikian pula sebaliknya. Titik hubungan antara energy tubuh dan energy kepribadian adalah id beserta insting-instingnya.

Insting-insting hidup menjamin tujuan mempertahankan hidup individu dan perkembang-biakan ras. Rasa lapar, haus, dan seks termasuk dalam hal ini. Insting yang paling mendapat penekanan pada teori Freud adalah seks. Insting seks itu bukan tunggal, tetapi jamak, artinya ada sejumlah kebutuhan jasmaniah berlainan yang membangkitkan hasrat-hasrat erotic. Hasrat tersebut bersumber pada bagian tertentu tubuh yang disebut dengan istilah daerah-daerah erogen. Daerah erogen tersebut adalah bibir dan rongga mulut, dubur, dan organ-organ seks. Masa kanak-kanak, insting seksual tersebut relative berdiri sendiri, namun saat mencapai masa pubertas, mereka cenderung menyatu dan bersama-sama menjalankan fungsi untuk tujuan reproduksi.

Teori Freud tentang seksualitas anak harus dilihat sebagai bagian integral dari teori perkembangan yang lebih luas dari kepribadian manusia. Ini memiliki asal-usul yang dalam dan merupakan generalisasi, penemuan Breuer sebelumnya menyatakan bahwa peristiwa masa kecil yang traumatis bisa memiliki efek negatif yang menghancurkan pada individu dewasa, dan mengambil bentuk tesis umum bahwa pada anak usia dini pengalaman seksual adalah faktor penting dalam penentuan kepribadian dewasa. Naluri atau dorongan itu diikuti dari kenyataan bahwa dari saat kelahiran bayi didorong dalam tindakannya oleh keinginan untuk tubuh/ kenikmatan seksual, di mana hal ini dilihat oleh Freud dalam hal hampir mekanik sebagai keinginan untuk melepaskan energi mental. Awalnya, bayi mendapatkan kesenangan tersebut, dari tindakan mengisap. Ini diikuti dengan tahap di mana fokus kesenangan atau melepaskan energi adalah anus, khususnya dalam tindakan buang air besar, dan ini sesuai disebut tahap “anal”. Kemudian anak kecil mengembangkan minat pada organ seksual sebagai tempat kesenangan dan mengembangkan daya tarik seksual yang mendalam bagi orang tua dari lawan jenis, dan kebencian pada orang tua dari jenis kelamin yang sama (Oedipus Complex). Ini bagaimanapun, menimbulkan perasaan bersalah pada anak, yang mengakui bahwa ia tidak pernah bisa menggantikan orang tua yang lebih kuat. Seorang anak laki-laki juga merasakan dirinya berada pada risiko. Dia takut bahwa jika ia tetap dalam mengejar daya tarik seksual untuk ibunya, ia mungkin dirugikan oleh ayah; khusus, ia takut bahwa ia mungkin dikebiri.

Usia lima tahun, dimana anak memasuki “latency” periode, dimana motivasi seksual menjadi begitu terasa. Hal ini berlangsung sampai pubertas ketika pembangunan genital dewasa dimulai, dan kesenangan mengalami focus ulang yaitu di sekitar area genital. Freud percaya urutan perkembangan tersirat dalam pembangunan manusia normal. Proses perkembangannya kemudian adalah untuk anak melalui serangkaian konflik dan resolusi sukses yang sangat penting untuk kesehatan mental dewasa. Banyak penyakit mental, terutama histeria, menurut Freud dapat ditelusuri kembali ke konflik yang belum terselesaikan yang dialami pada tahap ini, atau peristiwa yang dinyatakan mengganggu pola normal perkembangan kekanak-kanakan. Sebagai contoh, homoseksualitas dipandang oleh beberapa pengikut ajaran Freud sebagai akibat dari kegagalan untuk menyelesaikan konflik “Oedipus Complex”.

Freud menganggap mimpi sebagai “jalan raya menuju alam bawah sadar” seperti dalam mimpi bahwa pertahanan ego diturunkan sehingga beberapa materi yang ditekan datang melalui kesadaran, meskipun dalam bentuk terdistorsi. Mimpi melakukan fungsi penting bagi pikiran bawah sadar dan menjadi petunjuk berharga tentang bagaimana pikiran bawah sadar beroperasi. Tanggal 24 Juli 1895, Freud memiliki mimpi sendiri yang membentuk dasar teorinya. Dia telah khawatir tentang seorang pasien, Irma, yang tidak mengalami progress yang baik dalam pengobatan seperti yang diharapkannya. Freud bahkan menyalahkan diri sendiri untuk ini, dan merasa bersalah. Freud bermimpi bahwa dia bertemu Irma di sebuah pesta dan memeriksanya. Dia kemudian melihat rumus kimia untuk obat yang dokter lain berikan kepada Irma di depan matanya dan menyadari bahwa kondisinya disebabkan oleh jarum suntik kotor yang digunakan oleh dokter lain, kemudian Freud merasa lega dari rasa bersalah. Freud menafsirkan mimpi ini sebagai pemenuhan keinginan. Dia berharap bahwa kondisi yang buruk Irma itu bukan salahnya dan mimpi telah memenuhi keinginan ini dengan memberitahukan bahwa dokter lain yang salah.

Berdasarkan mimpi ini, Freud kemudian mengartikan bahwa fungsi utama dari mimpi adalah pemenuhan keinginan. Sebagai contoh, salah satu pasien Freud yang sangat membenci adiknya iparnya dan digunakan untuk merujuk kepadanya sebagai anjing, bermimpi mencekik anjing putih kecil. Freud menafsirkan ini sebagai mewakili keinginannya untuk membunuh adik iparnya. Jika pasien akan benar-benar bermimpi membunuh adik iparnya, ia akan merasa bersalah. Pikiran bawah sadar mengubahnya menjadi seekor anjing untuk melindunginya. Karya Freud tentang mimpi menjelajahi kemungkinan simbol universal dalam mimpi dan beberapa dari mereka bermakna seksual, termasuk tiang, senjata dan pedang mewakili penis, kemudian dan berkuda dan menari mewakili hubungan seksual. Freud sangat berhati-hati tentang simbol dan menyatakan bahwa simbol-simbol umumnya lebih bersifat pribadi daripada universal. Seseorang tidak bisa menafsirkan perwujudan isi mimpi tanpa mengetahui tentang kondisi orang-orang.

Belajar Dari Sigmund Freud

Menurut Psikoanalis Inggris bernama D. W. Winnicott, ada dua tahapan yang dilalui ketika belajar psikologi . Tahap pertama, orang belajar apa yang diajarkan tentang psikologi sama seperti mereka belajar hal-hal lain. Tahap kedua, mereka mulai bertanya-tanya, seperti : apakah itu benar? apakah itu nyata? bagaimana kita tahu? Tahap pertama dari pembelajaran dapat disebut, dalam bahasa Freud, identifikasi; siswa menjadi seperti seseorang yang tahu berbagai hal. Tahap pertama ini siswa menyesuaikan dengan apa yang seharusnya, subyek yang diajarkan. Tahap kedua mirip dengan apa yang disebut Freud kerja mimpi. Setiap siswa, sadar dan tidak sadar, membuat sesuatu dari dirinya sendiri keluar dari itu semua. Siswa menyerang subjek dengan pertanyaan dan kritik, dengan cara ini siswa membuat (atau gagal untuk membuat) psikologi sejati untuknya.

Berdasar sudut pandang kerja mimpi ala Freud, siswa menemukan dirinya tanpa sadar tertarik hal tertentu dari subyek yang diajarkan yang ia kemudian akan secara diam-diam (bahkan untuk dirinya sendiri) berubah menjadi sesuatu yang agak aneh. Jika dia melakukan ini saat ia sedang tidur kita akan menyebutnya mimpi; jika dia melakukannya saat dia terjaga itu akan disebut, kesalahpahaman, khayalan, atau kontribusi asli untuk subjek. Dengan kata lain, di tahap kedua, siswa membuat subjek cocok dengan proyeksi bawah sadarnya. Tahap pertama bisa disebut pendidikan resmi siswa. Tahap kedua, ketika seseorang menggambarkan ulang pemikirannya, mirip seperti kerja mimpi, mungkin agak lebih seperti pendidikan tidak resmi siswa.

Gagasan Winnicott kompatibel dengan prinsip pendidikan liberal, seperti : debat, kritik, dan rumusan. Kerja mimpi ala Freud, oleh Winnicott memiliki implikasi yang lebih radikal untuk cerita tentang belajar dan mengajar. Salah satu implikasi adalah bahwa orang dapat belajar tetapi mereka tidak dapat diajarkan, setidaknya mereka tidak bias diajarkan tentang apa yang penting, masing-masing akan menemukan hal yang penting. Apa yang menarik bagi seseorang yang oleh Freud disebut ‘prasyarat untuk mencintai’ nya, terpendam, dan mendalam istimewa, fungsi dari sejarah pribadi dan hasrat tak sadar, tak terduga, dan tak dimengerti. Pandangan psikoanalitik, secara sadar, saya punya kesibukan dan ambisi, tetapi saya juga memiliki keinginan bawah sadar saya yang dapat bertentangan dengan cita-cita sadar saya.

Berdasar pandangan Freud, kebajikan dapat diajarkan, tetapi hanya untuk bagian dari diri (dalam metapsychology Freud super-ego diinternalisasi awalnya dari orang tua, dan kemudian ego memiliki moralitas, karena dipaksa atas super – ego, dan melalui adaptasi sendiri untuk keadaan nya); lain, bagian yang lebih atau sama kuat dari diri – yang disebut berbagai oleh Freud, id (insting dasar) atau lebih inklusif, alam bawah. Ketika Freud datang untuk menulis tentang pendidikan anak, ia menulis lebih banyak dan tertarik tentang pendidikan diri anak. Freud menyadari, anak-anak tidak bisa benar-benar diajarkan tentang seks, mereka hanya bisa mengajar diri sendiri, mencari tahu dengan cara mereka sendiri, sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri pada saat itu. Jika anak-anak belajar tentang seks dengan cara yang sama bahwa mereka bermimpi, bagaimana mungkin mereka diajarkan? Bayangkan mencoba untuk mengajarkan seseorang bagaimana untuk bermimpi.

Menurut Freud, perilaku seksual terhadap anak adalah rasa ingin tahu mereka tentang seks. Sangat keingintahuan anak-anak tentang seks yang menciptakan bagi mereka konflik mendasar dengan apa yang dia sebut ‘cita-cita pendidikan’. Apa yang anak-anak ingin tahu, dan bagaimana mereka pergi tentang belajar itu, menempatkan mereka bertentangan dengan dunia orang dewasa. Anak-anak ingin tahu tentang seksualitas, tetapi orang-orang dewasa mengatakan bahwa mereka perlu tahu tentang sesuatu yang lain, sebut saja budaya. Hal itu untuk mengalihkan perhatian mereka dari apa yang mereka benar-benar tertarik dalam pendidikan. Freud menyiratkan dalam makalah ini, mengajarkan anak kehilangan minat dalam apa yang paling penting baginya. Ada perang antara rasa ingin tahu dan pendidikan . Freud membawa kita untuk mengajukan pertanyaan menarik: apa yang akan terlihat pada pendidikan jika kita mengambil bermimpi dan keingintahuan seksual anak-anak sebagai model untuk pembelajaran? Bagi Freud seksualitas anak adalah semacam pendewaan rasa ingin tahu.

Deskripsi Freud dalam karya-karya awal (pra 1910), hampir seolah-olah anak itu hidup dengan atau hidup melalui rasa ingin tahu seksual. Anak tahu apa yang ia tertarik: dari mana bayi berasal, perbedaan antara kedua jenis kelamin, hubungan orang tuanya. Rasa ingin tahu anak yang tinggi dan jelas ini adalah kebutuhan anak untuk mengetahui, dan mustahil untuk puas. Sebagai semacam parodi tentang manusia teoretis atau epistemologis, anak Freudian didorong oleh pertanyaan dan tidak percaya salah satu jawaban; ia hanya menemukannya untuk memuaskan diri sendiri. Dia kecanduan, didorong oleh, apa yang dia tidak tahu.

Menurut Freud keingintahuan seksual anak-anak adalah bahwa itu mirip dengan, atau bentuk nafsu makan; itu harus puas, tetapi oleh fantasi, cerita. Seolah-olah kehidupan naluriah anak sebagian mengambil bentuk kelaparan untuk narasi yang koheren untuk fiksi memuaskan. Rasa ingin tahu dan teori pembuatan anak yang, dalam arti yang sebenarnya, tentang mengapa ia ada di sana, dan dalam arti apa dia masih di sana setelah kelahiran saudara tersebut. Dan ini berarti, tentu saja, bahwa dalam arti dia tidak masih ada; ia telah mengungsi. Dia berada di tempat lain.

Teori psikoanalitik telah menjadi terobsesi oleh kehilangan. Bagi Freud ada juga kepenuhan imajinatif, sebuah kegembiraan yang nyata tentang cara-cara di mana anak-anak tersesat dalam mode aneh. Seolah-olah keinginan terkuat anak atau keinginan terdalam adalah untuk tumbuh, untuk menjadi lebih seksual atau intelektual kompeten, untuk tidak menjadi seorang anak. Anak tampak mengalami dirinya kalah dengan orang dewasa. Apa anak-anak menderita tidak menjadi apa yang mereka anggap sebagai orang dewasa. Freud menyarankan bahwa anak dan pemimpi tahu persis minat padanya, yaitu seksualitas.

Perenialisme & Pendidikan

Perenialis melihat sekolah sebagai lembaga sosial yang khusus dirancang untuk mengembangkan potensi intelektual manusia. Istilah “Perenialisme” berasal dari pernyataan bahwa prinsip-prinsip penting dari pendidikan itu tidak berubah dan akan berulang. Fokus Perenialis dalam bidang pendidikan adalah untuk memeriksa sifat manusia dan untuk merancang program pendidikan berdasarkan karakteristik universal. Nilai-nilai dasar manusia berasal dari rasionalitas kita yang mendefinisikan kita sebagai manusia. Sifat manusia adalah konstan dan pendidikan harus bertujuan untuk menumbuhkan kekuatan rasional. Pada dasarnya, tujuan universal pendidikan adalah kebenaran dan yang benar itu bersifat universal dan tidak berubah. Pendidikan harus bersifat universal dan konstan. Kurikulum sekolah harus menekankan tema universal dan berulang terus dari kehidupan manusia. Pendidikan harus berisi bahan kognitif yang dirancang untuk menumbuhkan rasionalitas dan itu harus sangat logis sehingga memungkinkan siswa untuk memanfaatkan pola simbolis pemikiran dan komunikasi. Ini harus mengembangkan prinsip etika dan mendorong moral, estetika, dan kritik agama dan apresiasi.

Teori pendidikan Perenialisme berusaha untuk mengembangkan potensi intelektual dan spiritual anak sepenuhnya melalui materi kurikulum yang didasarkan pada disiplin ilmu, seperti belajar sejarah, bahasa, matematika, logika, sastra, humaniora, dan ilmu pengetahuan. Mata pelajaran ini, dianggap sebagai bantalan pengetahuan umat manusia. Ini adalah alat orang beradab dan memiliki efek disiplin pada pikiran manusia. Teori pendidikan Perenialisme menekankan sisi humaniora sebagai sebuah karya yang memberikan wawasan yang baik, benar, dan indah. Dalam karya-karya ini, manusia telah melihat sekilas kebenaran abadi dan nilai-nilai. Wawasan tersebut, ditemukan dalam ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, sejarah, dan seni, dan itu bertahan karena mereka ditransmisikan dari generasi ke generasi. Manusia seperti Plato, Aristoteles, dan John Stuart Mill, misalnya, memiliki kualitas yang membuat mereka terus-menerus menarik bagi orang yang hidup pada waktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda.

Prinsip-prinsip umum yang terkait dengan Perenialisme dapat dilihat dengan memeriksa ide-ide pendidikan Robert M. Hutchins dan Jacques Maritain. Sementara Hutchins mewakili berbagai lebih Sekuler Humanisme Klasik, Maritain diidentifikasi dengan Perenialisme Agama yang berhubungan dengan Filsafat Neo-Thomistik. Ada kesepakatan tentang prinsip-prinsip dasar Perenialisme dari kedua tokoh tersebut, prinsip itu sebagai berikut: (1) ada suatu kebenaran yang berlaku universal terlepas dari keadaan dan kontingensi; (2) pendidikan suara akan memberikan kontribusi untuk mengejar kebenaran dan menanamkan prinsip hak dan keadilan; (3) kebenaran terbaik dapat diajarkan melalui studi sistematis dan analisis dari masa lalu, sebagai manusia digambarkan dalam karya-karya besar agama, filsafat, sastra, dan sejarah.

Ide pendidikan yang ideal menurut Hutchins adalah pendidikan yang mengembangkan kekuatan intelektual. Hutchins berpendapat bahwa kurikulum harus terdiri dari studi permanen yang mencerminkan unsur-unsur umum dari sifat manusia dan yang menghubungkan setiap generasi ke pikiran terbaik manusia. Dia sangat direkomendasikan studi tentang “buku besar” kuno , dimana buku-buku besar dunia barat tersebut merangkul semua bidang pengetahuan. Pembacaan kritis dan diskusi buku besar akan menumbuhkan standar penilaian dan kritik dan akan mempersiapkan siswa untuk berpikir hati-hati dan bertindak cerdas. Selain merekomendasikan kurikulum berdasarkan pembacaan pada buku besar peradaban Barat, Hutchins merekomendasikan studi tata bahasa, retorika, logika, dan matematika. Grammar, analisis bahasa, memberikan kontribusi untuk memahami dan pemahaman kata-kata tertulis. Retorika memberikan siswa dengan aturan menulis dan berbicara sehingga ia mampu ekspresi cerdas. Logika, studi kritis penalaran, memungkinkan seseorang untuk berpikir dan mengekspresikan diri secara teratur dan sistematis. Matematika adalah nilai umum karena merupakan penalaran dalam bentuk paling jelas dan paling tepat.

Tokoh lainnya adalah Maritain. Teori Maritain tentang pendidikan, dia berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah dua : untuk mendidik orang untuk mengolah kemanusiaan mereka dan untuk memperkenalkan mereka kepada warisan budaya mereka. Penekanan diberikan kepada budaya rasionalitas dan spiritualitas yang menentukan karakter manusia. Pelatihan kejuruan dan profesional adalah bawahan budaya intelek. Seperti Hutchins, Maritain mengutuk kesalahpahaman tertentu yang telah bingung dan menyimpang tujuan sejati pendidikan itu yang telah dipengaruhi oleh pendidikan modern ala Pragmatisme. Maritain menegaskan bahwa akhir yang tepat pendidikan adalah untuk mendidik orang untuk menyadari potensi manusia mereka. Pendidikan asli bersandar pada konsepsi sifat manusia berdasarkan warisan Yudeo Kristen. Menurut Maritain, pendidikan harus membimbing individu untuk membentuk diri mereka sebagai pribadi manusia “dipersenjatai dengan pengetahuan, kekuatan penghakiman, dan kebajikan moral.”

Sama seperti Esensialisme adalah menikmati kebangkitan kontemporer dalam bentuk pendidikan dasar, Perenialisme juga mengalami kebangkitan dengan “Usulan/Proposal Paideia” dirancang oleh Mortimer Adler (rekan lama dari Robert Hutchins). Berasal dari Bahasa Yunani, Paideia mengacu pada “pengasuhan anak-anak.” Sesuai dengan prinsip-prinsip Perenialis, Proposal Paideia berpendapat bahwa kesempatan pendidikan yang benar-benar sama harus sama untuk semua anak. Pendukung Proposal Paideia berpendapat bahwa untuk membagi mahasiswa menjadi kelompk tertentu atau untuk membuat program khusus untuk beberapa siswa, tetapi tidak untuk siswa lain adalah menyangkal kualitas yang sama pendidikan untuk semua. Tujuan utama pendidikan, yang mereka tegaskan adalah untuk melihat bahwa “manusia menjadi orang-orang yang terdidik.” Sekolah tidak hanya menyediakan keterampilan dan pengetahuan tetapi juga memupuk kebiasaan atau kelanjutan untuk pendidikan seumur hidup.

Perenialisme dari Hutchins dan Maritain menunjukkan prinsip-prinsip tertentu yang merupakan dasar arahan pendidikannya. Diantaranya adalah: (1) permanen adalah sebuah realitas yang lebih besar dari perubahan; (2) alam semesta tertib dan berpola; (3) fitur dasar dari sifat manusia muncul kembali dalam setiap generasi terlepas dari waktu atau tempat; (4) sifat manusia universal dalam karakteristik penting tersebut; (5) seperti sifat manusia, tujuan dasar pendidikan yang universal dan abadi; (6) mendefinisikan karakteristik manusia adalah rasionalitas, yang merupakan tugas pendidikan untuk menumbuhkan; dan (7) kebijaksanaan yang dimiliki dari umat manusia tercatat dalam karya-karya klasik tertentu.

Perilaku brutal dalam dunia pendidikan ini jika dilihat dari sudut pandang Perenialisme, ini merupakan kegagalan dari pola pendidikan yang pragmatis. Pendidikan seharusnya ditujukan agar siswa memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, bukan ditujukan bagi kebutuhan lapangan pekerjaan. Manusia dengan kemampuan intelektual yang tinggi dapat menjauh dari segala tindakan yang tidak berguna dan berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Perilaku brutal karena siswa tidak memiliki karakteristik manusia yang rasionalitas. Siswa seharusnya dididik untuk memiliki kemanusiaan.

Simple Game For Outbond

Tim work, keberanian, manajerial, kemandirian, cinta alam, kesabaran, dan lain sebagainya dapat diperoleh dari berbagai macam game-game outbond. Game outbond sebaiknya disiapkan secara matang dan juga memperhitungkan lokasi serta jumlah peserta. Game outbond idealnya dipimpin oleh satu orang fasilitator dan dibantu oleh asisten sebanyak jumlah kelompok yg ikut bermain.

Berikut beberapa game yang dapat digunakan :

1. Clip And Clep

Game ini dapat dimainkan pertama kali sebagai ice breaking mencairkan suasana). Pada game ini para peserta berebut tempat (titik tertentu kalo meninggalkan titik tidak boleh kembali ketitik yang sama) secara melingkar ditengah terdapat titik sebagai penanya yang dapat bertanya dengan sembarang pertanyaan, misalnya “Siapa yang pernah naik mobil? (karena semua pernah naik mobil maka semua ke tengah, dalam hitungan ketiga oleh fasilitator harus kembali namun tidak ditempat yang tadi). Peserta yang tidak dapat tempat ke tengah jadi penanya berikutnya.

2. Membentuk Tim

Game ini ditujukan untuk membentuk tim2 dalam outbond, sebaiknya jumlah tim lebih dari 2 dan dalam satu tim beranggotakan 6 – 8 orang. Salah satu cara membentuk tim, dimana fasilitator sudah menyediakan kertas sebanyak jumlah anggota, kertas itu bisa dituliskan nama binatang sebanyak jumlah tim yang kan dibentuk, masing2 anggota diminta bersuara seperti binatang tersebut untuk menemukan temannya. Game ini bisa dimodifikasi dengan berbagai alternatif lainnya.

3. Dragon Ball

Game mencari kelereng dalam lumpur, peserta sebagai tim disuruh untuk mencari beberapa kelereng dalam jumlah tertentu yang sudah dilempar.

4. Botol Bocor

Peserta disuruh untuk mengisi air di botol yang bocor dengan berbagai titik lobang dengan menggunakan anggota tubuh, sehingga mereka berusaha untuk menutupi lobang itu secara tim.

5. Jaring Bola

Peserta diminta bekerja sama dalam tim untuk menjaring bola dalam air dengan menggunakan jaring dari tali rafia yang memiliki kelonggaran bervariasi.

6. Gembala Sapi

Peserta ditutup matanya kecuali satu sebagai gembala, si gembala memberikan kode tepukan yang telah disepakati bersama untuk melewati rintangan yang telah disediakan.

7. Menebak Angka

Peserta diminta menebak secara berurutan 10 angka yg diperagakan oleh 1 orang anggota timnya.

8. Membuat Bangunan

Peserta secara berkelompok diminta membuat sebuah bangunan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekelilingya dalam jangka waktu 15 menit dan setelah selesai peserta diminta mempresentasikan apa yang sudah dibuatnya.

9. Amoeba Race

Semua peserta/tim bergabung menjadi satu, membentuk lingkaran besar, kemudian di dalam lingkaran besar ada lingkaran kecil, kemudian didalam lingkaran kecil tadi ada lingkaran lagi yg menyerupai amoeba. Setelah itu diminta berjalan tanpa merusak bentuk hingga batas tertentu kemudian diminta membelah menjadi dua seperti amoeba yang membelah diri dan setelah membelah jadi dua diminta adu cepat mencapai garis finish.Game ini ada baiknya dicoba dulu oleh fasilitator dan asistennya, sehingga yang fasilitator dan asisten dapat mengerti teknik membawakan game ini. Setiap akhir sebuah game, para peserta dapat ditanya pendapatnya tentang pelajaran yang bisa diambil dari game yang baru saja diikuti.

10. Mumi Hidup

Tiap tim peserta mendapat 2 kertas tissu gulung. Lalu sebagai tim, mereka membalut tubuh salah 1 anggotanya, tim yang paling cepat selesai dan hasilnya paling bagus lah yang menang. Kalo bisa kertas gulungnya yg mudah terputus, sehingga gamenya jadi lebih seru.

11. Balon Racing

Tiap tim mendapat 1 balon dan tugas mereka berlomba membawa balon melewati track/jalur yang telah disediakan, tim yg paling cepat akan menang. Balon hanya boleh ditiup/dihembus saja dengan mulut dan tidak boleh menggunakan anggota badan lainnya.

12. Ular Buta

Anggota tim berbaris sambil memegang pundak temannya yang didepan. Semuanya ditutup matanya, kecuali yang paling belakang. Tim kemudian diminta berjalan sesuai arahan dari anggota yg tidak ditutup matanya tersebut. Tim dapat diminta untuk mencari/ menuju suatu tempat, yg paling cepat yg menang.

13. Kompak Berdiri

Minta para anggota tim untuk duduk saling membelakangi dengan kaki berselonjor. Lalu minta mereka saling mengadu punggung untuk dapat berdiri secara serempak. Pemenang adalah tim yang berhasil berdiri dengan cepat dan kompak.

14. Pesan Berantai

Fasilitator harus terlebih dahulu menyiapkan kata2 nya. Misalnya masing2 tim terdiri dari 7 orang. Fasilitator membisikkan pada orang 1 dari tim itu 7 kata. Misalnya: “Hormat Bersila Menangis Membaca Menunjuk Duduk Mengepalkan.” Orang pertama melakukan hormat, lalu membisikkan 6 kata lagi pada orang kedua. Orang kedua bersila, lalu membisikkan 5 kata lagi pada orang ketiga, dan begitu seterusnya. Tim yang menang adalah tim yang melakukan instruksi secara benar dan cepat. Ini dapat dimainkan berkali2 dengan mengubah2 variasi instruksinya.

15. Kesan Pertama

Minta masing2 peserta menuliskan namanya di kertas HVS secara menurun, misalnya :ANTO lalu tempelkan kertas nama mereka itu di punggung mereka. Minta teman mereka menulis kepanjangan dari masing2 huruf tersebut. Misalnya:

Peserta 1 menulis kepanjangan huruf A traktif

Peserta 2 menulis kepanjangan huruf N arsis

Dan begitu seterusnya

Sehingga di kertas di punggung ANTO sudah lengkap isinya, misalnya :

A traktif, N arsis, T inggi, O ke

Peserta diminta memberi tanggapan atas apa yang ditulis oleh teman2 nya itu, dan boleh saling tanya jawab. Contoh, ANTO boleh tanya apa sebabnya saya tulis Atraktif. Ini game yang lumayan asyik dan membuat munculnya kreatifitas peserta dalam kosa kata.

16. Melanjutkan Gambar

Masing2 peserta dibagikan kertas HVS yang sudah digambari dengan bulatan/segiempat/segitiga/dll, peserta diminta melanjutkan gambar yang ada dan setelah selesai diminta menjelaskan sebab dia menggambar hal itu.

17. Merangkai Kata

Buat kartu sebanyak 5 kali jumlah peserta dan dimasing2 kartu itu ditulis kata (misalnya : merah, awan, sangkar, monyet, dll). Kartu2 itu kemudian diaduk dan dibagikan 5 pada masing2 peserta, misalnya ada peserta yang dapat kartu yang bertuliskan :

Anak

Hijau

Menangis

Kursi

Pantai

Peserta itu diminta membuat cerita singkat dengan memakai kata2 tersebut.

(Game ini diambil dari berbagai sumber)